unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Peta Backrooms Buatan Warga Jadi Daya Tarik Wisata Ruang Liminal di Korea
Hiburan

Peta Backrooms Buatan Warga Jadi Daya Tarik Wisata Ruang Liminal di Korea

Koridor kosong dengan lampu neon, menciptakan suasana liminal dan nostalgia
Koridor kosong dengan lampu neon, menciptakan suasana liminal dan nostalgia
A A Ukuran Teks16px

Film horor "Backrooms" yang tayang di Korea pada 27 Mei lalu berhasil menarik hampir 400.000 penonton di minggu pertamanya.

Film ini langsung menempati posisi kedua box office di tengah persaingan ketat dengan film-film blockbuster lainnya.

Disutradarai oleh Kane Parsons yang berusia 20 tahun, film ini diadaptasi dari miniseri YouTube berjudul sama.

Konsepnya menampilkan ruang dan lorong yang tak berujung, penuh nuansa nostalgia, serta menjadi tempat persinggahan yang mengundang rasa penasaran sekaligus ketakutan.

Meski wallpaper berjamur dan dengung lampu neon yang ikonik sulit ditemukan di dunia nyata, estetika liminalitas—perasaan berada di antara dua tujuan—berhasil menyentuh banyak penonton.

Setelah film dirilis, muncullah "Peta Backrooms" yang dikurasi oleh warga, memungkinkan para penjelajah urban untuk mengunjungi ruang-ruang transisi yang terasa setengah terlupakan di seluruh Korea.

Horor Liminal Menarik Penonton Muda

Konsep Backrooms berasal dari unggahan di forum anonim pada 2019.

Ini adalah wajah dari horor liminal, subgenre horor modern yang berfokus pada ruang peralihan di lokasi familiar seperti hotel atau sekolah yang, secara mengganggu, kosong dari manusia.

Horor liminal meledak popularitasnya pada 2020, saat lockdown COVID-19 di seluruh dunia menghasilkan pemandangan mal, sekolah, dan bandara yang sunyi—tempat yang biasanya ramai sehingga ketiadaan orang terasa sangat salah.

Subgenre ini menyentuh ketakutan baru yang mengakar di benak generasi muda yang tumbuh di lingkungan perkotaan padat.

Ini berkaitan dengan gagasan tentang kota yang menyesakkan tanpa alam, trauma masa kecil yang terpendam, dan gagasan tak terpikirkan tentang kesendirian.

Saat seseorang terbiasa dengan anonimitas di tengah keramaian, kesendirian membawa kerentanan yang sangat menekan.

Mencari K-Backrooms

Meskipun gagasan menemukan Backrooms di Korea mungkin terdengar mustahil, pencarian di media sosial menunjukkan banyak konten tentang ruang liminal Korea, mulai dari bagian stasiun kereta bawah tanah yang belum jadi hingga bangunan terbengkalai yang tidak pernah dihuni.

Korea, dengan modernisasinya yang cepat, memiliki banyak ruang liminal yang menunggu tujuan. Dulu hanya didokumentasikan dari mulut ke mulut, kini ruang-ruang itu menarik perhatian setelah film "Backrooms" tayang.

Satu situs web menawarkan peta Backrooms buatan warga yang bertujuan mengkatalogkan ruang liminal di seluruh Semenanjung Korea.

Saat ini ada 100 lokasi yang terdaftar, masing-masing menampilkan informasi seperti keamanan, aksesibilitas, serta tingkat ketakutan dan liminalitas.

Peta ini menerima kiriman dari pengguna yang melalui proses verifikasi sebelum ditambahkan secara resmi.

Peta ini tampaknya lebih sebagai bentuk solidaritas—pengguna anonim yang sama-sama mengingat ruang yang kehilangan fungsinya, berusaha mempertahankan rasa normal.

Calon pengunjung disarankan untuk mengambil tindakan pencegahan keselamatan, seperti membawa senter, berkunjung dalam kelompok, dan memberi tahu orang lain ke mana mereka pergi.

Dalam film "Backrooms" karya Parsons, lokasi tersebut berfungsi sebagai refraksi realitas yang tercipta dari ingatan dan trauma para protagonis, dihuni oleh salinan setengah ingat dari penghuni dunia nyata.

Backrooms—dan popularitas ruang liminal sebagai sumber ketakutan dan kenyamanan—mencerminkan kecemasan generasi yang dibesarkan di ruang perkotaan yang terhubung secara hiper.

Mungkin film Parsons, "Peta Backrooms", dan tren horor liminal adalah upaya generasi muda untuk menerima bagaimana mereka dibentuk oleh ruang-ruang tertentu, entah itu baik atau buruk.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru