unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Dampak Kebijakan Hanbok terhadap Pengalaman Wisata di Istana Korea
Lifestyle

Dampak Kebijakan Hanbok terhadap Pengalaman Wisata di Istana Korea

Wisatawan berhanbok di Istana Gyeongbokgung, Seoul
Wisatawan berhanbok di Istana Gyeongbokgung, Seoul
A A Ukuran Teks16px

Lebih dari 70 persen wisatawan asing yang mengunjungi Seoul mendatangi setidaknya satu istana kuno.

Menyewa hanbok dan berjalan santai di paviliun istana sambil berfoto telah menjadi ritual perjalanan yang jarang terlewatkan.

Baik di musim panas yang terik maupun musim dingin yang membeku, wisatawan asing selalu terlihat di sekitar istana dengan hanbok warna-warni, lengkap dengan gat dan norigae.

Di antara semua istana kuno, Gyeongbokgung memiliki daya tarik terkuat.

Pilar merah-cokelat raksasa, halaman batu yang luas, dan pemandangan Gunung Bukak di balik atap Gwanghwamun menawarkan pemandangan paling “Korea” yang bisa ditemukan wisatawan.

Semua ini dimulai pada 2013, ketika istana mulai memberikan tiket masuk gratis bagi pengunjung yang mengenakan hanbok.

Kebijakan ini menurunkan hambatan psikologis untuk mengunjungi istana kuno dengan menambahkan daya tarik budaya hanbok.

Hasilnya jelas.

Pada 2025, sebanyak 2,07 juta wisatawan mengunjungi lima istana utama Seoul dan Jongmyo Shrine, meningkat 260 persen dari 540.000 pada 2022.

Meskipun angka itu tidak terbatas pada wisatawan asing, antrean panjang di luar toko persewaan hanbok sudah cukup menggambarkan.

Lonjakan popularitas ini juga sejalan dengan booming global K-drama.

Atap genteng dan aula kayu istana kuno Korea yang sering muncul di layar membuatnya terasa lebih dekat bagi penonton luar negeri.

Kemudian hadir BTS. Pada 2020, BTS membawakan “Idol” di depan aula Geunjeongjeon di Gyeongbokgung dengan panggung terinspirasi hanbok.

Pada Maret tahun ini, mereka menggelar pertunjukan comeback “Arirang” di depan Gwanghwamun.

Kini, istana kuno Korea tidak lagi sekadar bangunan yang dikunjungi.

Tempat itu telah berevolusi menjadi lokasi wisatawan memerankan ulang adegan dari konten K-favorit mereka, baik animasi, drama, maupun K-pop.

Hanbok memungkinkan mereka mengalami Korea tidak hanya dengan mata tetapi juga dengan tubuh, mengubah tur istana dari sekadar tontonan menjadi sesuatu yang bisa dimasuki.

Jika K-content membuat mereka membeli tiket pesawat ke Korea, hanbok memberikan bentuk perjalanan yang bisa mereka simpan, dalam foto dan ingatan tubuh.

Itulah mengapa hanbok lebih dari sekadar tiket masuk gratis. Ia adalah bahasa pengalaman yang memungkinkan wisatawan mengenakan waktu Korea dan berjalan melalui ruang Seoul.

Tentu saja, ledakan ini tidak tanpa kontroversi.

Banyak hanbok yang disewa wisatawan asing memiliki rok seperti gaun, hiasan emas tebal, dan aksesori yang asal-usulnya sulit dilacak.

Mereka mungkin bagus difoto, tetapi jika pertanyaannya apakah mewakili garis anggun dan martabat sederhana yang mendefinisikan hanbok, jawabannya tidak.

Mengingat hanbok sewaan ini, bagi banyak wisatawan, adalah representasi pertama budaya Korea yang mereka kenakan, masalahnya menjadi lebih rumit.

Apa yang mereka alami dan kenangan yang tersisa tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai masalah komersial.

Hanbok “tanpa kewarganegaraan” yang dijual di sekitar istana tidak boleh diabaikan begitu saja sebagai preferensi pasar.

Jika pariwisata istana menjadi salah satu pengalaman budaya paling terlihat di Korea, pemerintah pusat dan daerah harus memberikan standar dan panduan dasar, memastikan aksesibilitas tidak mengorbankan identitas budaya.

Baru-baru ini, “hanbok saenghwal” atau budaya sehari-hari mengenakan hanbok ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda nasional.

Sebuah komite promosi juga diluncurkan dengan tujuan mendaftarkannya ke Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2030.

Undang-Undang Promosi Industri Budaya Hanbok yang disahkan Majelis Nasional pada Maret lalu meletakkan landasan kelembagaan untuk membuat hanbok lebih banyak dikenakan dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat industri, dan memperluas jangkauan globalnya.

Hanbok tidak lagi sekadar pakaian yang dikeluarkan hanya untuk hari libur.

Di jejak langkah wisatawan asing yang berjalan melalui istana kuno Korea, hanbok menjadi bahasa budaya yang digunakan Korea untuk berbicara kepada dunia.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru