ChatGPT semakin populer sebagai asisten virtual yang mampu menjawab pertanyaan, membantu pekerjaan, hingga menjadi teman diskusi.
Namun, di balik kemudahan itu, muncul kekhawatiran bahwa AI bukanlah pengganti tenaga profesional, terutama dalam menangani persoalan kesehatan mental.
>>> iOS 26.5.2 Dirilis Dadakan, Apple Waspadai Serangan AI ke iPhone
Isu ini mencuat setelah seorang pengguna di Amerika Serikat mengajukan gugatan terhadap OpenAI dan CEO Sam Altman.
Gugatan tersebut menyoroti dugaan bahwa percakapan dengan ChatGPT justru memperburuk kondisi mental pengguna, memicu diskusi tentang batas kemampuan AI dalam percakapan sensitif.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa meskipun chatbot semakin pintar, teknologi ini tetap memiliki keterbatasan dan tidak dirancang untuk menggantikan diagnosis atau pendampingan dari tenaga kesehatan profesional.
Gugatan Berawal dari Percakapan dengan ChatGPT
Michael Lines (34) menggugat OpenAI setelah mengaku pengalamannya memperburuk gangguan bipolar yang telah lama dideritanya.
Dalam dokumen gugatan, Lines menyebut menggunakan ChatGPT berbasis GPT-4o tahun lalu dan memberi tahu chatbot bahwa ia sedang menjalani pengobatan untuk gangguan mental.
Menurut pengakuannya, respons yang diterima justru tidak membantu.
>>> OPPO Reno16 Global vs China: Perbedaan Spesifikasi yang Signifikan
Ia mengklaim chatbot memvalidasi keyakinan delusional yang dialaminya, termasuk saat ia percaya sebagai sosok religius tertentu, alih-alih mendorongnya mencari bantuan dari keluarga atau tenaga medis.
Lines menyatakan episode manik yang dialaminya semakin memburuk selama beberapa minggu hingga akhirnya berujung pada percobaan bunuh diri.
Kasus ini kini diproses melalui jalur hukum dan menjadi salah satu gugatan paling serius yang dihadapi OpenAI terkait penggunaan produknya.
Perdebatan tentang Peran ChatGPT dalam Kesehatan Mental
Perkara ini memunculkan pertanyaan lebih luas tentang bagaimana chatbot AI seharusnya merespons pengguna yang mengalami kondisi psikologis tertentu.
Banyak orang mulai memanfaatkan AI untuk mencurahkan isi hati, meminta saran, atau mencari dukungan emosional karena kemudahan akses dan respons cepat.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa AI bekerja berdasarkan pola bahasa dan data pelatihan, bukan pemahaman klinis seperti psikolog atau psikiater.
>>> Sinopsis Spider-Man: Far from Home, Tayang di Bioskop Trans TV 2 Juli 2026
Respons chatbot dalam situasi tertentu berpotensi tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna yang sedang mengalami krisis.
