Personel Maliq & D'Essentials mengungkapkan perasaan terharu setelah menyaksikan pertunjukan perdana teater musikal Senja Teduh Pelita. Musikal ini diadaptasi dari lagu-lagu grup musik yang telah terbentuk sejak 2002 tersebut.
Mereka tidak menyangka lagu-lagu lawas yang diciptakan belasan tahun lalu berhasil divisualisasikan dalam kisah perjuangan anak-anak. Cerita musikal berfokus pada harapan, keluarga, dan masa depan bumi.
>>> Cerita Tamu soal Suasana Pernikahan Taylor Swift-Travis Kelce
"Terharu banget bahwa apa yang kami kerjakan selama ini, umurnya bisa lebih panjang lagi, bisa dinikmatin dalam bentuk lain," kata Indah setelah menonton pada Jumat (3/7).
"Memang itu salah satu tujuan kami, dengan adanya musikal seni teater Indonesia ini, kami pengin karya-karya kita gak berhenti di situ saja," tuturnya.
Drummer Widi Puradiredja terlihat menangis di sejumlah adegan. Sebagai pencipta lagu Maliq D'Essentials, ia mengaku tersentuh karena lagu-lagu yang dibawakan memiliki kisah personal.
"Saya pribadi justru pecah gurung-gurung nangisnya pas di lagu Sayap, karena ini lagu-lagu yang seperti itu punya sisi personal ya di baliknya," ucapnya.
"Jadi saat diceritakan oleh show dengan visual, dengan narasi yang pas, saya pribadi sangat kesentuh," ungkap Widi.
16 Lagu Maliq dalam Satu Pertunjukan
Pertunjukan Senja Teduh Pelita merangkai 16 lagu Maliq D'Essentials dalam satu alur cerita. Penyusunan lagu sepenuhnya dikurasi oleh sutradara dan penulis naskah, Nuya Susantono.
Menurut Widi, musikal ini berhasil menyampaikan lagu-lagu di luar judul hits tentang romansa. Hal ini diharapkan membuka sisi lain dari karya Maliq bagi penggemar.
"Kami serahkan semua keputusan kepada Mbak Nuya, Mbak Nuya awal sudah ngasih list kira-kira lagu ini yang akan dibawakan, kami semua oke," kata Widi.
