unique visitors counter
⌂ Beranda News Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji, Arsitek Pertumbuhan Ekonomi, Wafat di Usia 97

Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji, Arsitek Pertumbuhan Ekonomi, Wafat di Usia 97

Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji, Arsitek Pertumbuhan Ekonomi, Wafat di Usia 97
Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji, Arsitek Pertumbuhan Ekonomi, Wafat di Usia 97
A A Ukuran Teks16px

Mantan Perdana Menteri China, Zhu Rongji, meninggal dunia di Beijing pada Rabu pagi. Kabar duka ini disampaikan oleh kantor berita resmi Xinhua.

Zhu, yang berusia 97 tahun, dikenal sebagai tokoh kunci di balik ledakan ekonomi China pada era 1990-an. Ia menjabat sebagai perdana menteri dari 1998 hingga 2003.

>>> Profil PT GNI: Pemilik dan Bidang Usaha di Tengah PHK 1.900 Karyawan

Semasa hidupnya, Zhu dijuluki 'Boss' dan 'Zhu Fengzi' atau 'Zhu Gila' karena gaya kepemimpinannya yang tegas dan kritis terhadap birokrasi.

Kiprah dan Warisan Zhu Rongji

Zhu lahir pada 23 Oktober 1928 di Provinsi Hunan, kampung halaman Mao Zedong.

Kariernya sempat terhambat ketika ia dicap 'kaum kanan' pada 1957 karena memuji reformasi di Hongaria dan Yugoslavia.

Ia kemudian diasingkan ke pedesaan selama Revolusi Kebudayaan 1966-1976 untuk bekerja manual. Baru pada 1979, Zhu direhabilitasi dan kariernya meroket.

Sebagai wakil perdana menteri pada 1990-an, Zhu berhasil menekan inflasi dengan memberlakukan kontrol harga dan memotong pinjaman ke perusahaan negara yang merugi.

Ia juga berperan besar dalam membawa China masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Desember 2001. Keanggotaan ini membantu China menjadi pengekspor terbesar dunia.

Di bawah kepemimpinannya, pertumbuhan ekonomi China konsisten di atas 8 persen per tahun dari 2000 hingga 2010, dengan puncak 14,2 persen pada 2007.

>>> 56 Hari Intervensi Stunting, Pemkot Tangsel Libatkan 6 Puskesmas

Zhu juga memprakarsai ledakan kepemilikan rumah di China pada 1998 dengan menjual apartemen milik perusahaan negara. Dalam satu dekade, mayoritas hunian perkotaan menjadi milik pribadi.

Meski begitu, Zhu bukanlah pendukung pasar bebas sepenuhnya. Ia lebih merupakan birokrat ulung yang menjalankan perintah partai untuk merampingkan industri negara.

Ia berperan dalam menyusun rencana untuk mengubah bank, maskapai, perusahaan minyak, dan BUMN lainnya menjadi korporasi yang berorientasi laba, tetapi tetap dimiliki pemerintah.

Zhu juga dikenal berani mengakui kesalahan pemerintah.

Pada 1998, setelah banjir menewaskan 4.150 orang, ia mengkritik tanggul yang disebutnya 'tidak lebih kuat dari tahu'.

Tiga tahun kemudian, ia meminta maaf di televisi nasional atas ledakan di sebuah sekolah di China selatan yang menewaskan sedikitnya 42 orang, sebagian besar anak-anak.

>>> 5 HP Rp1 Jutaan Terbaik 2026: Performa Kencang dan Baterai Awet

Setelah pensiun dari jabatan perdana menteri, Zhu jarang tampil di publik. Ia meninggalkan warisan reformasi ekonomi yang mengubah China menjadi kekuatan global.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru
stikibot