unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Karya Pop Indonesia Mendunia: Pengamat Sebut Infrastruktur Masih Jadi PR

Karya Pop Indonesia Mendunia: Pengamat Sebut Infrastruktur Masih Jadi PR

Karya Pop Indonesia Mendunia: Pengamat Sebut Infrastruktur Masih Jadi PR
Karya Pop Indonesia Mendunia: Pengamat Sebut Infrastruktur Masih Jadi PR
A A Ukuran Teks16px

Hikmat menilai kualitas karya bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan di pasar internasional. Distribusi dan infrastruktur justru berperan besar mempertemukan karya dengan audiens yang tepat.

Ia mencontohkan Rich Brian dan Homicide, grup hip-hop asal Bandung. Keduanya mungkin punya kualitas sama kuat, tetapi jalur sirkulasinya berbeda.

Sementara Voice of Baceprot memiliki jalur berbeda melalui subkultur metal.

>>> Fajar Novario, Desainer Muda di Balik Logo HUT ke-81 RI

Keberagaman talenta dan karya Indonesia yang punya audiens serta jalur sirkulasi masing-masing menunjukkan persoalannya bukan pada ketiadaan potensi menembus pasar internasional.

"Dari dulu kita selalu punya potensi yang bagus. Cuma kita bisa terjebak middle-income trap.

Itu karena infrastruktur maupun strateginya keropos," kata Hikmat. "Jangan sampai kita keropos terus-terusan dan terus-menerus terjebak pada potensi saja."

"Semua produk budaya kita punya potensi nilai ekonomi, meskipun bentuknya berbeda-beda," kata Hikmat Darmawan.

"Bukan hanya kualitas intrinsik karyanya, barangkali itu tidak terlalu berhubungan.

Sebuah karya boleh sangat bagus, tetapi kalau tidak tersirkulasi dengan baik karena tidak ada kanalnya, hasilnya sama saja," lanjutnya.

Hikmat juga menilai Indonesia tidak harus menjadikan Amerika Serikat atau Eropa sebagai satu-satunya tujuan.

Pasar regional dan negara-negara global south juga dapat menjadi peluang, termasuk bagi perkembangan karya seperti no na.

Hanya saja, ambisi global perlu berjalan beriringan dengan penguatan pasar domestik. Menurut Hikmat, "ukuran keberhasilan utama seniman atau produser budaya itu revenue stream, bukan eksistensi di luar."

"Sudah digarap optimal belum pasar di dalam negeri, pasar domestik?" katanya.

"Kita [populasi] 200 berapa juta, itu tuh pasar. Beroptimallah berenang-renang di sini saja dulu."

Oleh karena itu, tantangan industri kreatif Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan bukan lagi membuktikan kualitas talenta, melainkan membangun sistem yang membuat kualitas itu bertahan dan menghasilkan nilai ekonomi.

Bagi Hikmat, keberhasilan individu di luar negeri tetap layak diapresiasi.

Namun, capaian tersebut baru berdampak besar apabila mampu membangun ekosistem yang memberi semakin banyak talenta dan karya Indonesia kesempatan berkembang.

>>> Gerhana Matahari 2026: Xiaomi Supermoon Mode Menyulap Matahari Jadi Bulan

"Tapi kalau membangun pasar, dalam arti memakmurkan sebanyak mungkin seniman dengan karya mereka, ya di Indonesia saja masih banyak PR-nya."

M
Tim Redaksi
Penulis: Maria Renata
📰 Update Terbaru
stikibot