Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah adanya pembicaraan dengan Iran, baik yang sedang berlangsung maupun yang dijadwalkan.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Selasa (19/8/2026).
Trump juga menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap berlaku penuh. Ia mengklaim Selat Hormuz terbuka dan beroperasi, serta semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan.
Pernyataan Trump itu bertentangan dengan klaim Iran yang menyebut Selat Hormuz masih ditutup untuk pelayaran.
Sebelumnya, negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan selat itu akan tetap ditutup hingga AS memenuhi syarat-syarat kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.
Kebuntuan Diplomatik dan Dampaknya
Gencatan senjata sementara berakhir pada Senin (18/8/2026).
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya beralih ke postur militer 'sepenuhnya ofensif' akibat kebuntuan diplomatik.
Meski demikian, belum ada laporan serangan baru dari kedua belah pihak pada Selasa. Kebuntuan ini mendorong kenaikan harga minyak dan membuat pasar saham melemah.
Data pelayaran awal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Senin masih di bawah sepuluh.
United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal di selat tersebut, menyebabkan kerusakan ruang mesin dan korban kru.
Sikap Iran dan Prospek Negosiasi
Qalibaf menyebut syarat-syarat yang harus dipenuhi AS meliputi pencabutan blokade pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pembebasan aset beku Teheran, dan penghentian ancaman serta operasi militer di semua lini.
Nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni menetapkan tenggat 60 hari untuk kesepakatan yang lebih luas mengenai program nuklir Iran dan sanksi AS.
Tenggat itu berakhir pada Senin, dan Trump mengatakan tidak berencana memperpanjangnya.
Meski demikian, Iran masih terbuka untuk berdialog dengan AS, menurut Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran. Namun, ia menegaskan bahwa negosiasi tidak sama dengan menyerah.
Konflik yang meletus sejak 28 Februari telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon.
Iran juga telah mengebom pangkalan militer AS di sejumlah negara, termasuk Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 126 dolar AS per barel, sekitar 75 persen di atas level sebelum perang.
Pada Selasa, harga minyak mentah Brent ditutup naik 20 sen menjadi sedikit di atas 91 dolar AS per barel.
