>>> Penertiban 120 Bangunan Liar di Kali Pasir Putih Depok Termasuk Pospol
Cambridge awalnya membela Arday, tetapi akhirnya membuka investigasi pada 5 Agustus setelah menerima informasi baru.
Arday mengundurkan diri pada hari yang sama. Universitas Glasgow dan Durham, tempat Arday sebelumnya mengajar, juga mengumumkan investigasi mereka sendiri.
Kanselir Cambridge, Chris Smith, membela keputusan universitas dan mengkritik liputan media. Ia menegaskan pentingnya integritas akademik, tetapi juga menolak ikut serta dalam 'perburuan rasis' terhadap seorang akademisi.
Lebih dari 107.000 orang menandatangani surat terbuka yang menyerukan penyelidikan publik terhadap liputan media tentang Arday. Surat itu menuduh media melakukan 'pelecehan pers dengan nuansa rasis'.
Steven Barnett, profesor komunikasi di Universitas Westminster, menyalahkan surat kabar arus utama yang menerbitkan 289 cerita tentang Arday dalam 22 hari.
Menurutnya, tekanan media jelas berdampak besar pada Arday.
Namun, Charles Moore, mantan editor Daily Telegraph, berpendapat bahwa Cambridge seharusnya menyelidiki kekhawatiran tentang Arday sejak 2023.
Jika demikian, Arday mungkin tidak akan mengalami rasa malu akibat liputan media yang luas.
Sarah Ditum di The Times menilai Arday adalah kisah yang sah karena tindakannya merugikan akademisi yang diplagiat, kepercayaan publik, dan dosen lain.
Namun, ia mengakui bahwa cerita ini mendapat perhatian lebih karena terjadi saat musim panas ketika parlemen tutup.
Sementara itu, Patrick Vernon mengingatkan bahwa di balik pemberitaan ada seorang pria, suami, dan ayah.
>>> Kebakaran Hotel di Kolkata Tewaskan 9 Orang, Enam Lainnya Terluka
Ia membuat kampanye GoFundMe untuk keluarga Arday yang telah mengumpulkan lebih dari 193.000 poundsterling.
