Padahal, menghargai orang lain terkadang dimulai dari kesediaan untuk benar-benar mendengarkan.
Rasulullah SAW memberikan perhatian kepada orang yang berbicara dengan beliau. Beliau tidak memperlakukan orang lain dengan sikap meremehkan.
Dari sini kita belajar bahwa setiap manusia ingin dihargai.
Maka, mari belajar mendengarkan.
Belajar memberikan perhatian.
Belajar tidak memotong pembicaraan.
Belajar menghormati orang yang lebih tua.
Belajar menyayangi yang lebih muda.
Dan belajar memperlakukan setiap manusia dengan penuh adab.
Sebab, seseorang mungkin akan melupakan apa yang kita katakan, tetapi ia sering kali akan mengingat bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengannya.
Hadirin yang dirahmati Allah SWT.
Bulan Maulid hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Sudahkah lisan kita semakin santun?
Sudahkah kita menjadi pribadi yang lebih jujur?
Sudahkah kita mampu menahan amarah?
Sudahkah kita mudah memaafkan?
Sudahkah tangan kita ringan untuk membantu?
Sudahkah kita menghormati pasangan, orang tua, anak, tetangga, dan orang-orang di sekitar kita?
Jika jawabannya belum, maka jangan berputus asa.
Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk memulai perubahan.
Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang besar. Mulailah dari satu perubahan kecil.
Hari ini, bertekadlah untuk mengurangi ucapan kasar.
Besok, berusahalah menahan amarah.
Kemudian, belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Belajarlah memberi tanpa menunggu diminta.
Belajarlah mendengarkan tanpa merasa diri paling benar.
Dan teruslah memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Sebab, mencintai Rasulullah SAW bukan berarti kita harus langsung menjadi manusia yang sempurna. Namun, cinta kepada Rasulullah harus membuat kita terus memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Jangan biarkan Maulid Nabi hanya menjadi sebuah peringatan tahunan yang datang dan pergi tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita.