Inilah akhlak yang seharusnya kita coba hadirkan dalam kehidupan kita.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Sayyidah Aisyah RA pernah menjelaskan tentang akhlak Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang berkata keji, tidak suka melakukan perbuatan buruk, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang pemaaf dan berlapang dada.
Akhlak ini sangat penting untuk kita renungkan, terutama di tengah kehidupan saat ini.
Hari ini, begitu banyak pertengkaran bermula dari ucapan. Satu kalimat yang kasar dapat memutus persaudaraan. Satu komentar yang menyakitkan dapat menimbulkan permusuhan.
Di dalam keluarga, terkadang kita merasa paling berani menyakiti orang-orang yang justru paling dekat dengan kita. Kepada pasangan, kita mudah meninggikan suara. Kepada anak, kita mudah meluapkan kemarahan. Kepada orang tua, terkadang kita lupa menjaga perkataan.
Padahal, jika kita benar-benar ingin meneladani Rasulullah SAW, maka salah satu hal yang harus kita perbaiki adalah lisan kita.
Sebelum berbicara, bertanyalah kepada diri sendiri:
Apakah perkataan ini benar?
Apakah perkataan ini baik?
Apakah perkataan ini perlu disampaikan?
Dan apakah perkataan ini akan membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain?
Menahan diri dari ucapan yang buruk adalah bagian dari meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Akhlak Rasulullah juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memaafkan.
Memaafkan memang tidak selalu mudah. Ada kalanya kita terluka. Ada ucapan yang membekas. Ada perlakuan orang lain yang membuat hati sulit menerima.
Namun Rasulullah SAW mengajarkan bahwa membalas keburukan dengan keburukan tidak selalu menjadi jalan terbaik.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan juga bukan berarti membiarkan kezaliman terus terjadi. Akan tetapi, memaafkan adalah usaha membersihkan hati dari dendam ketika kita memiliki kesempatan untuk memilih kelapangan hati.
