Trump Perintahkan Bendera Setengah Tiang untuk Hormati Dolly Parton
Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan seluruh bendera Amerika Serikat dikibarkan setengah tiang selama satu pekan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada legenda musik country, Dolly Parton, yang meninggal dunia pada Selasa (25/8/2026) dalam usia 80 tahun.
Keputusan tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan tertinggi dari pemerintah Amerika Serikat bagi sosok yang selama puluhan tahun menjadi ikon musik, budaya, sekaligus kegiatan filantropi.
Berdasarkan pengumuman resmi yang dilaporkan Rolling Stone, Trump menetapkan bendera AS dikibarkan setengah tiang di berbagai lokasi hingga matahari terbenam pada 1 September 2026.
Pengibaran bendera setengah tiang berlaku di Gedung Putih, seluruh gedung dan fasilitas publik Amerika Serikat, pangkalan militer, kapal-kapal Angkatan Laut, hingga fasilitas diplomatik AS di dalam maupun luar negeri.
Langkah tersebut diambil menyusul kabar duka meninggalnya Dolly Parton, salah satu musisi country paling berpengaruh dalam sejarah musik Amerika.
Trump: Dunia Mencintaimu
Sebelum mengeluarkan pengumuman resmi mengenai bendera setengah tiang, Donald Trump juga menyampaikan penghormatan kepada Dolly Parton melalui unggahannya di platform Truth Social.
Trump menyebut pelantun lagu Jolene itu sebagai salah satu penyanyi musik country terbaik sepanjang masa.
Ia menilai kepergian Parton menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi dunia musik, tetapi juga bagi jutaan penggemarnya di berbagai negara.
“Tidak pernah ada sosok seperti dia, dan tidak akan pernah ada lagi,” tulis Trump.
Dalam pesan perpisahannya, Trump juga menyampaikan ungkapan yang menyentuh untuk sang legenda.
“Dunia mencintaimu,” ujarnya.
Ucapan tersebut mencerminkan besarnya pengaruh Dolly Parton yang selama puluhan tahun berhasil menjangkau penggemar dari berbagai generasi dan latar belakang.
Dolly Parton Meninggal di Usia 80 Tahun
Dolly Parton meninggal dunia pada usia 80 tahun setelah menjalani perjuangan singkat melawan kanker.
Timnya menyatakan bahwa Parton meninggal di Vanderbilt-Ingram Cancer Center, Nashville, Tennessee. Saat mengembuskan napas terakhir, ia disebut berada di tengah orang-orang terdekat yang dicintainya.
Kabar duka tersebut langsung mengguncang dunia hiburan Amerika Serikat.
Selama kariernya yang berlangsung lebih dari beberapa dekade, Parton bukan sekadar dikenal sebagai penyanyi country. Ia juga merupakan penulis lagu, aktris, pebisnis, dan filantropis yang memiliki pengaruh besar di Amerika Serikat maupun dunia.
Nama Dolly Parton telah menjadi bagian penting dari perjalanan musik populer Amerika.
Lagu-lagunya tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga bertahan lintas generasi.
Beberapa karya paling ikoniknya antara lain Jolene, 9 to 5, serta I Will Always Love You, lagu yang kemudian semakin mendunia setelah dibawakan Whitney Houston.
Sosok yang Berusaha Menjauh dari Politik
Menariknya, penghormatan dari Donald Trump datang kepada sosok yang sepanjang hidup dan kariernya dikenal berusaha menjaga jarak dari pertarungan politik partisan.
Dolly Parton selama bertahun-tahun berhati-hati dalam menyampaikan pandangan politiknya kepada publik.
Dalam wawancara dengan Nightline pada 2018, Parton menolak memberikan komentar terbuka secara langsung mengenai Trump.
Ia menjelaskan bahwa dirinya memiliki penggemar yang berasal dari berbagai kelompok politik dan tidak ingin membuat pernyataan yang dapat menyinggung sebagian dari mereka.
“Saya tidak berkecimpung dalam politik; saya seorang penghibur,” ujar Parton saat itu.
Sikap tersebut mencerminkan prinsip yang selama ini dipegangnya: menjadikan musik dan hiburan sebagai ruang yang dapat dinikmati siapa saja, tanpa harus terjebak dalam perbedaan politik.
Bagi Parton, penggemarnya datang dari berbagai latar belakang, keyakinan, dan pilihan politik.
Karena itu, ia memilih untuk menjaga fokus pada karya dan pesan positif yang ingin disampaikan kepada publik.
Pernah Berkomentar soal Pilpres AS 2016
Meski berusaha menjaga jarak dari politik, Dolly Parton sesekali tetap memberikan pandangannya ketika ditanya mengenai dinamika pemilihan presiden Amerika Serikat.
Dalam pemilihan presiden AS pada 2016, Parton pernah dimintai pendapat mengenai Hillary Clinton dan Donald Trump.
Ia saat itu menyebut Clinton sebagai sosok yang kompeten dan menyatakan akan mendukungnya apabila Clinton berhasil terpilih.
Namun, di sisi lain, Parton juga menggambarkan perseteruan antara kedua kandidat sebagai tontonan politik yang luar biasa.
Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana Parton berusaha menyampaikan pandangannya tanpa menjadikan politik sebagai identitas utama dalam perjalanan kariernya.
Ia tetap dikenal sebagai figur publik yang lebih banyak berbicara mengenai musik, kehidupan, kebaikan, serta pentingnya membantu sesama.
Warisan Dolly Parton Jauh Melampaui Musik
Pengaruh Dolly Parton tidak hanya datang dari deretan lagu hits dan kesuksesannya di industri hiburan.
Ia juga dikenal luas sebagai salah satu tokoh filantropi paling aktif di Amerika Serikat.
Salah satu program yang paling identik dengannya adalah Imagination Library, sebuah program yang membantu menyediakan buku gratis bagi anak-anak.
Melalui program tersebut, Parton berupaya mendorong minat membaca sejak usia dini dan memperluas akses anak-anak terhadap buku.
Kegiatan sosialnya juga mencakup dukungan terhadap pendidikan dan penelitian medis.
Bagi banyak orang, sisi kemanusiaan Dolly Parton menjadi bagian penting dari warisan yang akan terus dikenang, bahkan setelah kepergiannya.
Ia tidak hanya meninggalkan karya musik, tetapi juga berbagai program yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
Ikon Musik yang Dikenang Lintas Generasi
Selama puluhan tahun berkarier, Dolly Parton berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah musik Amerika.
Ciri khas suaranya, kemampuan menulis lagu, serta kepribadiannya yang hangat membuat namanya dikenal jauh melampaui genre musik country.
Lagu Jolene masih terus diputar dan dinyanyikan oleh generasi baru.
Sementara 9 to 5 menjadi salah satu karya yang identik dengan budaya populer Amerika.
Adapun I Will Always Love You menjelma menjadi salah satu lagu cinta paling terkenal di dunia.
Kepergian Dolly Parton menandai berakhirnya sebuah perjalanan panjang seorang seniman yang telah memberikan pengaruh besar terhadap musik, hiburan, dan kehidupan sosial.
Namun, karya dan warisan yang ditinggalkannya diperkirakan akan terus hidup dalam ingatan para penggemarnya.
Dengan perintah pengibaran bendera setengah tiang selama satu pekan, pemerintah Amerika Serikat memberikan penghormatan nasional kepada sosok yang telah menjadi bagian penting dari sejarah budaya negeri tersebut.
Bagi jutaan penggemarnya di seluruh dunia, Dolly Parton mungkin telah pergi. Namun musik, kebaikan, dan jejak pengaruhnya akan terus dikenang lintas generasi.