1. Bobot dan Dimensi yang Terasa "Berisi"
Dengan berat 208 gram dan ketebalan 8,6 mm, realme P4s 5G jelas bukan ponsel yang bisa disebut ringan atau tipis. Bobot ini merupakan konsekuensi langsung dari baterai 8.000 mAh yang tersemat di dalamnya. Bagi sebagian pengguna, bobot ini mungkin tidak menjadi masalah besar. Namun, jika Anda terbiasa menggunakan ponsel dengan satu tangan dalam waktu lama — misalnya saat membaca e-book di kereta atau scrolling TikTok sebelum tidur — pergelangan tangan Anda mungkin akan mulai terasa lelah setelah 30-45 menit penggunaan.
2. Absennya Fitur NFC: Sebuah "PR" Besar untuk Pasar Indonesia
Ini mungkin adalah kekurangan paling krusial bagi calon pembeli di Indonesia. realme P4s 5G tidak dilengkapi dengan modul NFC (Near Field Communication), yang berarti Anda tidak bisa menggunakan ponsel ini untuk transaksi e-money, tap-to-pay di mesin EDC, atau mengisi ulang kartu transportasi umum seperti KRL Commuter Line dan TransJakarta.
Di era di mana pembayaran digital dan transportasi cashless sudah menjadi kebutuhan primer di kota-kota besar Indonesia, ketiadaan NFC terasa seperti langkah mundur yang sulit dimaafkan. Ini adalah "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan realme jika mereka benar-benar ingin P4s 5G sukses di pasar Nusantara.
3. Stutter Ringan pada Antarmuka
Beberapa laporan awal dari pengguna di India menyebutkan adanya stutter atau patah-patah ringan saat melakukan multitasking berat atau saat transisi animasi yang kompleks di antarmuka realme UI. Ironisnya, masalah ini terjadi meskipun layar sudah mendukung refresh rate 144 Hz. Kemungkinan besar, hal ini terkait dengan optimasi software yang belum sempurna dan diharapkan bisa diperbaiki melalui pembaruan firmware di masa mendatang.