Niat suci untuk beribadah ke Tanah Suci harus berujung pada kekecewaan mendalam dan suasana yang mencekam. Ratusan calon jemaah umrah asal Jombang yang seharusnya terbang pada Minggu (30/8/2026) dini hari, justru mengalami nasib apes.
Rencana keberangkatan sekitar 200 calon jemaah melalui PT Annisa Ahmada Travelindo (ITS Grup) berujung pada kericuhan di area Masjid Agung Baitul Mukminin, Jombang. Bukan hanya soal batalnya keberangkatan, status visa yang misterius hingga koper jemaah yang sempat diturunkan paksa dari bus menjadi sorotan tajam publik.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Berikut kronologi lengkap dan fakta-fakta di balik kericuhan yang merugikan ratusan jemaah ini.
Dari Suasana Haru Berubah Menjadi Kekacauan
Berdasarkan keterangan saksi mata, Widi, yang turut mengantar dua kerabatnya (R dan L) ke titik kumpul, suasana dini hari itu awalnya dipenuhi kebahagiaan. Sekitar pukul 01.00 WIB, Masjid Agung Baitul Mukminin sudah dipadati oleh ratusan calon jemaah beserta keluarga yang mengantar.
"Suasana saat itu sangat haru. Banyak yang berpelukan dan berfoto bersama keluarga sebagai kenang-kenangan sebelum keberangkatan ke Tanah Suci," ungkap Widi, Minggu (30/8/2026).
Namun, euforia tersebut bak disambar petir. Menjelang pukul 02.30 WIB, alih-alih segera diarahkan menuju bus untuk berangkat ke Bandara Juanda, para jemaah justru dikumpulkan di dalam area masjid untuk sekadar mendengar pengarahan dan doa bersama.
Di tengah kekhusyukan, pihak manajemen travel mengumumkan sebuah kabar yang mengejutkan: hanya sekitar 40 orang yang diizinkan berangkat pada hari itu. Pengumuman ini sontak memicu kepanikan dan kemarahan massal.
Misteri Visa dan Ulah Pihak Travel
Persoalan mendasar yang memicu amarah para jemaah dan keluarga adalah ketidakjelasan status visa. Hingga detik-detik terakhir sebelum keberangkatan, visa umrah dikabarkan belum dicetak atau di tangan para jemaah.
Ketika desakan pengembalian uang (refund) mulai mengemuka, pihak travel berdalih bahwa dana yang telah disetorkan jemaah sudah habis digunakan untuk biaya operasional perjalanan. Ironisnya, mereka menjanjikan visa akan diberikan langsung di bandara saat proses check-in.
"Katanya visa akan diberikan di bandara saat akan berangkat. Tentu saja ini tidak masuk akal dan sangat meresahkan," tambah Widi.
Drama Koper Diturungkan Paksa dari Bus
Kekacauan tidak berhenti di soal visa. Drama semakin menjadi-jadi ketika armada bus yang seharusnya mengangkut jemaah menuju Surabaya justru menolak beroperasi.
Diketahui, ada lima hingga enam bus yang disiapkan oleh pihak travel. Namun, para sopir dan pemilik armada turun dari kendaraan mereka dengan emosi. Ternyata, PT Annisa Ahmada Travelindo diduga belum melunasi atau bahkan belum membayar sama sekali sewa armada tersebut.
Buntut dari sengketa keuangan ini, koper-koper milik calon jemaah yang sudah masuk ke bagasi bus diturunkan paksa oleh pihak penyedia transportasi tanpa ada klarifikasi atau pemberitahuan yang manusiawi kepada para jemaah yang mayoritas berusia lanjut.
Beban Biaya Tambahan dan Efek Domino di Bandara
Dari sisi finansial, kerugian dan beban yang ditanggung jemaah tidaklah sedikit. Widi mengungkapkan bahwa keluarganya telah membayar paket umrah sebesar Rp 33 juta per orang.
Tidak berhenti di situ, pihak travel sebelumnya juga meminta tambahan biaya sebesar Rp 5 juta per orang dengan alasan penyesuaian harga tiket pesawat akibat kenaikan harga avtur (bahan bakar pesawat). Total, masing-masing jemaah telah mengeluarkan dana hingga Rp 38 juta.
Kabar buruk dari Jombang ini ternyata menciptakan efek domino di Bandara Juanda. Sejumlah calon jemaah lain yang sudah terlanjur berkumpul di bandara memilih untuk membatalkan keberangkatan mereka.
"Yang di bandara infonya juga tidak berani berangkat. Pihak travel di Jombang bilang yang bisa berangkat 40 orang tapi tanpa pendamping (mutawwif). Kami di sini jadi ragu, apakah akomodasi di Arab Saudi sudah disiapkan atau belum," ujar Widi menambahkan.
Mediasi Kepolisian dan Janji Manis Travel
Melihat situasi yang kian memanas dan berpotensi memicu kerusuhan, aparat kepolisian setempat segera turun tangan. Polisi memediasi pertemuan antara perwakilan PT Annisa Ahmada Travelindo (ITS Grup) dengan perwakilan calon jemaah yang marah.
Setelah melalui perdebatan alot, disepakati bahwa keberangkatan akan tetap dilakukan, namun secara bertahap. Para jemaah kini hanya bisa pasrah menunggu realisasi janji tersebut.
"Kalau bisa segera diperbaiki dan dipertanggungjawabkan, supaya semua bisa berangkat sesuai janji mereka awal," harap Widi dengan nada lelah.
Hingga berita ini diturunkan pada Senin (31/8/2026) pagi, upaya konfirmasi dari Jawa Pos Radar Jombang ke kantor manajemen PT Annisa Ahmada Travelindo belum membuahkan hasil. Rangkaian pesan yang dikirimkan melalui aplikasi WhatsApp ke nomor kontak pihak travel juga tidak mendapat respons sama sekali.
Pelajaran Berharga: Tips Memilih Travel Umrah Terpercaya
Kasus di Jombang ini menjadi alarm keras bagi masyarakat agar lebih teliti dalam memilih biro perjalanan wisata religi. Kementerian Agama (Kemenag) RI selalu mengingatkan masyarakat untuk memeriksa legalitas travel sebelum menyetorkan uang.
Berikut adalah beberapa tips aman memilih travel umrah agar terhindar dari kerugian materiil dan kekecewaan:
- Cek Legalitas PPIU: Pastikan travel telah memiliki izin resmi sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dari Kementerian Agama. Anda bisa mengeceknya melalui situs resmi Pusaka Kemenag.
- Waspada Harga Tidak Masuk Akal: Jika ada travel yang menawarkan harga jauh di bawah standar rata-rata pasar, Anda harus curiga. Seringkali, harga murah adalah umpan untuk menarik dana jemaah sebelum travel tersebut kabur atau bangkrut.
- Tanyakan Kejelasan Visa dan Tiket: Travel yang profesional akan memberikan bukti booking tiket pesawat dan status visa yang jelas jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, bukan mendadak di hari-H.
- Perhatikan Rekening Penampungan: Pastikan pembayaran dilakukan ke rekening perusahaan (atas nama PT/CV) yang terdaftar di Kemenag, bukan ke rekening pribadi atas nama individu.
- Cari Tahu Rekam Jejak: Telusuri ulasan di media sosial atau tanyakan kepada kerabat yang pernah menggunakan jasa travel tersebut. Rekam jejak yang buruk adalah indikator awal adanya masalah manajerial.