unique visitors counter
⌂ Beranda News Khutbah Jumat, 4 September 2026: 4 Sifat Wajib yang Wajib Dipegang Para Pemimpin
News

Khutbah Jumat, 4 September 2026: 4 Sifat Wajib yang Wajib Dipegang Para Pemimpin

Khutbah Jumat, 4 September 2026: 4 Sifat Wajib yang Wajib Dipegang Para Pemimpin
Menag: Masjid Istiqlal Jadi Masjid Pertama yang Masuk BEI
A A Ukuran Teks16px

Bulan Rabiul Awal selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia, tak terkeuali di Indonesia. Memasuki September 2026 ini, gema peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kembali bergema di berbagai masjid dan musala. Namun, di balik tradisi perayaan yang meriah, tersimpan sebuah refleksi mendalam tentang esensi kepemimpinan yang sesungguhnya.

Ustadz Achmad Hasanuddin HR, Sekretaris Komisi Fatwa Kota Tangerang, dalam khutbah Jumat (4/9/2026) kemarin, menyampaikan sebuah pesan kritis dan inspiratif. Menurutnya, Maulid Nabi sejatinya bukan sekadar rutinitas tahunan atau perayaan seremonial belaka. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk "membongkar" kembali lembaran sejarah kehidupan Rasulullah SAW untuk dijadikan cermin bagi para pemimpin di era modern.

"Memperingati Maulid Nabi bukan hanya sebatas menjaga tradisi baik, melainkan agar kita bisa membuka kembali sejarah kehidupan beliau yang mulia, khususnya dalam aspek kepemimpinan, agar kita bisa memperoleh limpahan rahmat Allah SWT," ujar Ustadz Achmad di hadapan jamaah.

Lantas, bagaimana relevansi keteladanan Nabi Muhammad SAW yang hidup lebih dari 14 abad silam dengan krisis kepercayaan terhadap pemimpin di era kontemporer saat ini?

Makna Syukur dan Sang Pembawa Rahmat

Sebelum melangkah pada konsep kepemimpinan, Ustadz Achmad mengingatkan umat Islam tentang pentingnya rasa syukur. Mengutip sebuah hadits qudsi riwayat Al-Baihaqi dari Sayyidah Aisyah RA, Allah SWT berfirman: "Wahai hamba-Ku! Kamu tidak akan bisa bersyukur kepada-Ku selagi kamu tidak berterima kasih atas orang yang Aku telah menjalankan nikmat melalui kedua tangannya."

Nabi Muhammad SAW adalah perantara terbesar nikmat iman dan Islam bagi umat manusia. Beliau diutus bukan untuk membawa bencana, melainkan sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam) sebagaimana tertuang dalam QS Al-Anbiya: 107. Maka, mencintai dan meneladani beliau adalah wujud tertinggi dari rasa syukur seorang hamba kepada Sang Pencipta.

📰 Update Terbaru