unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kabar Duka Mendalam: Eks Pelatih Persija dan Persebaya, Iwan Setiawan, Tutup Usia, Jejak Legendaris yang Abadi di Sepak Bola Indonesia
News

Kabar Duka Mendalam: Eks Pelatih Persija dan Persebaya, Iwan Setiawan, Tutup Usia, Jejak Legendaris yang Abadi di Sepak Bola Indonesia

Kabar Duka Mendalam: Eks Pelatih Persija dan Persebaya, Iwan Setiawan, Tutup Usia, Jejak Legendaris yang Abadi di Sepak Bola Indonesia
Setiawan • Instagram
A A Ukuran Teks16px

Awan mendung seolah kembali menyelimuti langit dunia sepak bola Tanah Air. Rasa duka yang mendalam menyergap publik olahraga nasional setelah kabar kepulangan pelatih senior berkarisma, Iwan Setiawan, tersebar luas pada Kamis, 3 September 2026. Kepergian sosok yang pernah menukangi sejumlah klub raksasa seperti Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya ini bukan sekadar kehilangan seorang individu, melainkan hilangnya salah satu pilar penting dan saksi hidup dari evolusi kepelatihan sepak bola Indonesia.

Iwan Setiawan menghembuskan napas terakhirnya di usia yang ke-68, meninggalkan warisan taktis, mental, dan emosional yang tak akan lekang oleh waktu bagi para pemain, rekan sejawat, hingga jutaan penggemar sepak bola di seluruh penjuru negeri.

Konfirmasi dan Belasungkawa Emosional dari Rekan Sejawat

Berita duka ini dikonfirmasi secara langsung oleh rekan sesama pelatih yang juga merupakan salah satu sosok muda berbakat di dunia kepelatihan nasional, Rudy Eka Priyambada. Melalui unggahan yang penuh haru di akun Instagram pribadinya pada hari yang sama, Rudy menyampaikan rasa kehilangan yang tak terperi.

Bagi Rudy, Iwan Setiawan bukan sekadar rekan kerja, melainkan seorang mentor, figur panutan, dan sosok yang berdedikasi tinggi dalam membimbing generasi pelatih baru.

"Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Selamat Jalan Ayah Iwan Setiawan. Pertemuan kita terakhir di NFP (National Football Philosophy) Jogja kemarin," tulis Rudy Eka Priyambada, sebagaimana dikutip dari BolaSport.

Unggahan tersebut semakin menegaskan kedekatan emosional di antara mereka. Rudy menambahkan, "Sosok seorang pelatih berjiwa jujur apa adanya. Terima kasih Ayah Iwan sudah jadi panutan saya dalam karier kepelatihan sepak bola. Semoga amal ibadah Ayah diterima di sisi Allah SWT." Pernyataan ini menjadi bukti nyata bahwa pengaruh Iwan melampaui batas taktik di lapangan; ia adalah pembentuk karakter bagi para penerusnya.

Perjalanan Panjang: Dari Pemain Tangguh hingga Strategis Ulung

Lahir di Medan pada 5 Juli 1958, Iwan Setiawan telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya untuk mencintai dan membesarkan sepak bola Indonesia. Sebelum dikenal sebagai otak taktis di pinggir lapangan, ia pernah mengecap nikmatnya berlaga sebagai pemain yang tangguh.

Rekam jejaknya sebagai pemain cukup gemilang, di mana ia tercatat pernah memperkuat klub-klub legendaris seperti Pelita Jaya, Arseto Solo, hingga membela kebanggaan warga ibu kota, Persija Jakarta. Pengalaman bertanding di level tertinggi inilah yang kemudian membekalinya dengan intuisi tajam saat beralih peran menjadi seorang pelatih.

Setelah memutuskan untuk menggantung sepatu, Iwan tidak meninggalkan dunia yang dicintainya. Ia beralih fokus meniti karier manajerial dengan memulai langkah dari akar rumput. Ia dipercaya mengarsiteki tim junior Persija Jakarta pada kurun waktu 1997 hingga 1999, membina bibit-bibit muda Macan Kemayoran.

Perjalanannya terus menanjak berkat konsistensi dan visi kepelatihannya yang jernih. Ia kemudian dipercaya menukangi tim senior Persija Jakarta pada musim 2000-2001. Prestasinya yang konsisten membuatnya dilirik oleh federasi, hingga ia sempat mengemban amanah mulia menangani Timnas Indonesia U-17 pada rentang tahun 2004-2005, di mana ia bertugas membentuk fondasi sepak bola usia muda nasional.

Sentuhan Emas dan Jejak Prestasi yang Tak Terlupakan

Sepanjang kariernya, Iwan Setiawan pernah mengarsiteki sejumlah tim besar di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari PSMS Medan, Persela Lamongan, Pusamania Borneo FC, hingga Persebaya Surabaya. Namun, ada dua momen khusus yang selalu dikenang sebagai puncak kontribusi nyatanya.

Salah satu pencapaian manisnya yang paling dikenang adalah saat ia sukses membawa Pusamania Borneo FC meraih gelar juara kasta kedua nasional pada musim 2013-2014. Di bawah komandonya, tim asal Kalimantan tersebut tampil dominan dan penuh percaya diri, sebuah pencapaian yang mengangkat martabat dan kepercayaan diri sepak bola daerah di kancah nasional.

Tak berhenti di situ, saat ia membesut Persebaya Surabaya pada musim 2017, Iwan meletakkan fondasi taktis dan mental yang sangat kokoh. Ia menjadi arsitek awal dari pembentukan skuad yang di kemudian hari berhasil membawa tim Bajul Ijo tersebut tampil sebagai juara. Visi jangka panjangnya dalam membangun budaya menang di Surabaya menjadi bukti bahwa ia adalah pelatih yang berpikir melampaui hasil sesaat.

Gaya Kepemimpinan Tegas, Nyentrik, dan Ahli Perang Psikologis

Di balik catatan prestasi yang gemilang, Iwan Setiawan dikenal luas oleh media dan suporter sebagai sosok yang tegas, berkarakter kuat, dan sedikit nyentrik. Ia bukan tipe pelatih yang suka basa-basi atau bermain aman.

Iwan tak ragu melancarkan strategi "perang psikologis" yang cerdas saat sesi konferensi pers jelang laga-laga krusial. Tujuannya jelas: menekan mental lawan, memancing emosi yang tepat, dan sekaligus memompa semangat juang anak asuhnya. Momen ini sangat terlihat saat ia menangani Borneo FC di ajang Piala Presiden 2015, di mana setiap pernyataan blak-blakannya selalu menjadi sorotan utama media dan pembicaraan hangat di kalangan komunitas suporter.

Meski gaya kepemimpinannya kerap memicu dinamika dan perdebatan, kontribusi dan jejak positif sang pelatih tetap diakui secara luas oleh publik sepak bola nasional. Ia adalah tipe pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab penuh, baik saat kemenangan diraih maupun saat kekalahan menghadang.

Akhir Perjalanan dan Warisan Abadi untuk Sepak Bola Indonesia

Sebelum menutup usianya, klub terakhir yang sempat merasakan sentuhan taktis dan semangatnya adalah Sriwijaya FC, yang ia tangani pada ajang Championship Liga 2 musim 2025-2026. Meski usianya telah senja, semangatnya untuk terus mengingatkan pentingnya revolusi mental di tubuh sepak bola Indonesia tak pernah padam. Ia kerap menyuarakan agar sepak bola nasional tidak hanya bergantung pada pemain diaspora, tetapi juga mampu mandiri dengan mempercayai talenta lokal yang dibina dengan benar.

Kepergian Iwan Setiawan meninggalkan lubang besar yang sulit untuk segera diisi. Namun, warisannya berupa dedikasi tanpa batas, kejujuran dalam berkarya, dan cinta tak bersyarat terhadap kemajuan sepak bola Indonesia akan terus hidup. Warisan itu akan terus bergema dalam setiap pelatih muda yang ia bimbing, dalam setiap pemain yang pernah ia bentuk karakternya, dan dalam ingatan kolektif para pecinta sepak bola Tanah Air.

Selamat jalan, Pelatih. Terima kasih atas setiap keringat, taktik, dan pelajaran hidup yang telah Engkau berikan. Jejakmu di lapangan hijau akan selalu dikenang, abadi dalam sejarah sepak bola Indonesia. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru