Kabut duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dan dunia politik Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sosok yang dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren sekaligus nahkoda politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di daerah tersebut, H NM Syaifur Rizal atau yang akrab disapa Gus Rijal, dikabarkan telah meninggal dunia.
Pimpinan yang rendah hati ini menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 2 September 2026, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang, Jawa Timur, setelah menjalani perjuangan melawan sakit yang dideritanya. Kabar kepergian sang ulama dan politisi ini dikonfirmasi melalui unggahan duka yang beredar di akun TikTok resmi @mwcnu.margoyoso, yang kemudian dengan cepat menyebar dan membanjiri linimasa media sosial dengan ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan.
Kronologi Sakit dan Perawatan Intensif di Bumi Santri Jombang
Perjalanan kesehatan Gus Rijal mulai memburuk setelah ia menyelesaikan rangkaian kegiatan padat, termasuk menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Dedikasi dan kesibukan yang tinggi diduga menjadi pemicu utama kondisi fisiknya yang menurun drastis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Gus Rijal mulai dilarikan ke fasilitas kesehatan sejak 28 Agustus 2026. Ia kemudian menjalani perawatan intensif selama empat hari di RSUD Jombang. Tim medis mencatat bahwa penyebab utama meninggalnya almarhum adalah pecah pembuluh darah yang memicu gejala stroke akut. Kondisi ini diperparah oleh faktor kelelahan fisik yang ekstrem (overworked), yang akhirnya memberatkan kerja organ vitalnya.
Pemilihan RSUD Jombang sebagai tempat perawatan tidak lepas dari reputasi rumah sakit tersebut yang memadai dalam menangani kasus stroke, serta kedekatan geografis dan kultural antara Jombang dan Pati sebagai dua wilayah yang memiliki ikatan kuat dalam jaringan pesantren dan tradisi ke-NU-an.
Jejak Pengabdian: Dari Pengasuh Ponpes hingga Nahkoda PKB Pati
Kehilangan Gus Rijal bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga lubang besar bagi institusi yang ia pimpin. Sejak Juni 2026, ia dipercaya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Hajroh Basyir As-Salafiyah yang berlokasi di Kajen, Kabupaten Pati. Di bawah pengasuhannya, pesantren ini terus berupaya mempertahankan tradisi keilmuan salafiyah sembari beradaptasi dengan tantangan pendidikan modern.
Tidak hanya di dunia dakwah, nama Gus Rijal juga mencuat tajam di kancah politik lokal. Ia berhasil mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten Pati setelah melalui proses demokrasi internal yang ketat, di mana ia berhasil mengalahkan Plt. Bupati Pati, Rasmi Ardhi Chandra.
Kemenangan tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen besarnya. Gus Rijal dikenal sebagai figur yang rendah hati, namun memiliki visi yang tegas. Ia berkomitmen penuh untuk melakukan penataan struktural baru di tubuh partai. Tujuannya jelas: memperkuat posisi dan elektabilitas PKB di legislatif Kabupaten Pati, agar suara rakyat dan nilai-nilai perjuangan NU dapat tersalurkan dengan lebih efektif dalam kebijakan publik.
Proses Pemulangan Jenazah dan Rencana Pemakaman
Pasca-kematian, prosedur administratif dan medis di RSUD Jombang diselesaikan dengan penuh khidmat. Jenazah H NM Syaifur Rizal kemudian dipulangkan dari Jombang menuju kampung halamannya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, untuk dimakamkan di tempat peristirahatan terakhir.
Rencananya, prosesi pemakaman dilaksanakan pada Kamis, 3 September 2026. Ribuan pelayat, mulai dari santri, kerabat, rekan sejawat di PKB, hingga masyarakat umum yang mencintai ketokohannya, diperkirakan memadati lokasi pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan almarhum.
Warisan Keteladanan yang Abadi
Kepergian Gus Rijal di usia yang masih produktif meninggalkan duka yang mendalam, namun juga warisan keteladanan yang abadi. Ia adalah bukti nyata bahwa seorang pemimpin dapat merangkul dua dunia sekaligus: dunia spiritual sebagai pengasuh pesantren, dan dunia publik sebagai politisi yang memperjuangkan aspirasi rakyat.
Kondisi kesehatan yang tiba-tiba memburuk akibat kelelahan juga menjadi pengingat penting bagi para pemimpin dan aktivis di mana pun untuk tetap menjaga keseimbangan antara pengabdian dan kesehatan diri.
Selamat jalan, Gus Rijal. Jasa dan dedikasimu untuk NU, pesantren, dan masyarakat Pati akan terus dikenang. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa, menerima amal ibadah, dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya, serta memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan.