Sherina Munaf berbagi pengalaman sulitnya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Ia bahkan mengaku hampir putus asa saat berjuang di lapangan.
Pengalaman itu dialami Sherina pada hari ketiga berada di Kalimantan Tengah bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Saat itu, ia terlibat dalam upaya pemadaman di area hutan belakang Fakultas MIPA Universitas Palangka Raya.
Menurut Sherina, medan yang dihadapi kali ini lebih menantang dibandingkan saat melakukan rewetting atau pembasahan kembali di Hiu Putih dan Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.
"Kami di sana cukup lama, dari pagi sampai sore.
Kemudian kami sempat break makan siang dan lanjut lagi sampai malam," beber Sherina dalam unggahan bersama pada Kamis (3/9).
"Jujur buat aku ini adalah terrain yang lebih challenging lagi, karena banyak sekali batang-batang kayu yang di atas gambut yang sangat panas," kata Sherina.
"Jadi setiap kali kami melangkah ke depan, kami harus mendinginkan dulu karena masih sangat aktif baranya. Lebih panas lagi," lanjutnya.
Ia juga menyadari bahwa upaya pemadaman tidak selalu berakhir setelah api terlihat padam. Ia benar-benar merasakan proses tersebut menguras tenaga dan mental para relawan.
"Karena ya kami selesai malam, cuman kami melihat ada beberapa api yang nyala lagi. Jadi bukan rewetting ya, literally baranya menyala lagi," kata Sherina.
"Being here, aku merasakan sendiri betapa susahnya memadamkan api. Gambut itu sangat mudah terbakar.
Kemudian yang kami padamkan nyala lagi. Kami ke kanan padamkan yang kanan, yang kiri nyala lagi," lanjutnya.
"Jadi aku mengerti kadang-kadang yang di lapangan rasanya pasti mendekati putus asa, apalagi di area yang sangat mereka cintai, yang memiliki biodiversitas yang luar biasa."
Sherina juga merasakan dampak kondisi udara dan medan terhadap fisiknya. Kondisi tersebut membuatnya semakin mengapresiasi petugas dan relawan yang setiap hari berjuang memadamkan api.
"Karena yang ISPA udah bertambah terus jumlahnya. Banyak juga relawan yang pada akhirnya terkena ISPA.
Aku pun sendiri merasakan sesaknya gitu ya," kata Sherina.
"Beda sekali hari pertama dengan hari kedua gitu. Hari kedua stamina ku turun.
Enggak kebayang mereka yang harus berjam-jam di situ dan melihat tempat yang mereka cintai terbakar."
Sherina berharap pengalaman yang ia lihat dan rasakan langsung di lapangan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kondisi karhutla di Kalimantan Tengah.
"Jadi lagi-lagi aku di sini bersama Powerful Voice, dengan kacamataku sendiri, dengan lensa perspektifku sendiri, bisa membawa awareness ini, bisa membawa testimoni ini kepada teman-teman yang mungkin melihat dari layar handphone, bahwa apa yang dilakukan para pejuang lapangan ini sangat melelahkan," kata Sherina.
"Tapi semua demi memulihkan hutan, biodiversitas dan juga kesehatan kita semua. Bantuan kalian matters untuk kita semua.
Mari kita pulihkan hutan milik kita semua ini bersama-sama."