Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan di Gedung Putih pada Kamis.
Keduanya menghadapi sejumlah isu sulit, mulai dari perang Iran hingga sengketa Taiwan dan pembatasan ekspor chip.
Meski demikian, kedua pemimpin tampak yakin bahwa waktu berpihak pada mereka. Mereka berusaha saling mengungguli dalam persaingan ekonomi dan keamanan nasional yang diperkirakan berlangsung bertahun-tahun.
Kepercayaan diri itu tercermin dari pandangan masing-masing. Trump dinilai yakin ekonomi AS akan tumbuh dan semakin kuat, sementara Xi melihat AS sedang mengalami kemunduran.
Pertemuan ini berlangsung di tengah berbagai persoalan pelik.
China menolak desakan dan ancaman ekonomi AS agar menggunakan pengaruhnya untuk menekan Iran menyetujui syarat AS mengakhiri perang yang hampir berlangsung tujuh bulan.
Xi ingin Trump menghentikan secara permanen penjualan senjata ke Taiwan dan melonggarkan pembatasan ekspor chip canggih.
Sementara itu, kedua pihak pada Rabu sepakat memperpanjang gencatan senjata dagang selama dua bulan.
Gencatan senjata dagang selama satu tahun itu semula akan berakhir pada 10 November. Perpanjangan dua bulan ini menunda upaya mencari kesepakatan yang lebih permanen.
Gencatan senjata dagang dan tarif
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dagang tak lama setelah Xi tiba di Washington pada Rabu.
Ia menyampaikannya melalui Fox News.
Bessent menyebut mungkin Trump dan Xi bisa mencapai kesepakatan lebih besar pada Januari, atau justru memutuskan memperpanjangnya kembali.
Menurutnya, kedua pemimpin mungkin terbuka pada mekanisme notifikasi baru untuk insiden AI yang dapat memengaruhi keamanan nasional.
