unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Kisah Cinta 70 Tahun Mahathir Mohamad dan Dr. Siti Hasmah: Dari Bangku Kuliah hingga Dipisahkan Maut, Sebuah Legenda Cinta Abadi
News

Kisah Cinta 70 Tahun Mahathir Mohamad dan Dr. Siti Hasmah: Dari Bangku Kuliah hingga Dipisahkan Maut, Sebuah Legenda Cinta Abadi

Kisah Cinta 70 Tahun Mahathir Mohamad dan Dr. Siti Hasmah: Dari Bangku Kuliah hingga Dipisahkan Maut, Sebuah Legenda Cinta Abadi
Siti • Instagram
A A Ukuran Teks16px

Suasana duka yang mendalam menyelimuti negeri Jiran, Malaysia. Mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad, terlihat menangis tersedu-sedu saat melepas jenazah sang istri tercinta, Dr. Siti Hasmah Mohd Ali, ke peristirahatan terakhirnya. Momen haru yang penuh air mata ini bukan sekadar perpisahan biasa, melainkan penutup dari sebuah perjalanan cinta luar biasa yang telah membentang selama tujuh dekade penuh, atau tepat 70 tahun.

Kehilangan ini terasa begitu berat dan nyata. Keduanya telah melewati suka dan duka, membangun bahtera rumah tangga yang menjadi inspirasi bagi banyak pasangan di seluruh dunia. Kini, maut telah datang menjemput, mengakhiri kebersamaan fisik mereka, namun meninggalkan warisan cinta yang abadi.

Awal Mula Asmara di Bangku Kedokteran Singapura

Dilansir dari kantor berita resmi Malaysia, Bernama, pada Selasa (29/9/2026), benih-benih cinta antara Mahathir Mohamad dan Siti Hasmah Mohd Ali sebenarnya telah mulai tumbuh sejak 23 April 1949. Kala itu, keduanya masih berstatus sebagai mahasiswa kedokteran yang penuh semangat di King Edward VII College of Medicine di Singapura.

Kisah romantis ini bermula dari sebuah momen sederhana namun berkesan. Setelah selesai menonton film di bioskop, Mahathir memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Siti Hasmah. Sebelum akhirnya berkembang menjadi jalinan asmara yang serius, hubungan mereka diawali dengan persahabatan yang erat. Mahathir dikenal kerap membantu Siti Hasmah dalam menyelesaikan berbagai tugas dan tantangan studinya, menunjukkan kepedulian dan ketulusan hatinya sejak dini.

Dinamika hubungan manis mereka ini kelak diabadikan secara mendalam dalam buku berjudul Siti Hasmah: Citra Wanita Dua Zaman. Buku tersebut menjadi saksi bisu bagaimana kisah asmara masa kuliah tersebut menandai awal dari sebuah hubungan serius yang berujung pada ikatan suci pernikahan.

Ikrar Suci dan Babak Baru Kehidupan di Alor Setar

Puncak dari perjalanan cinta mereka tercapai pada 4 Agustus 1956. Tanggal tersebut menjadi momen bersejarah di mana Mahathir dan Siti Hasmah resmi mengikat janji pernikahan. Sejak saat itu, babak baru kehidupan pun dimulai.

Setelah menikah, Dr. Siti Hasmah dengan setia mengikuti suaminya pindah ke Alor Setar, Kedah. Di sana, ia mengabdikan diri sebagai petugas medis di Rumah Sakit Umum Alor Setar. Peran ganda yang diemban wanita tangguh ini sungguh luar biasa; ia memulai kehidupan baru tidak hanya sebagai seorang istri yang penyayang, tetapi juga tetap eksis sebagai dokter profesional dan ibu yang penuh kasih bagi keluarga.

Pendamping Setia di Tengah Badai Politik

Ketika Mahathir Mohamad memutuskan untuk terjun ke dunia politik yang penuh dinamika dan tekanan, Dr. Siti Hasmah senantiasa menjadi sandaran utama. Ia mendampingi suaminya dalam berbagai agenda resmi kenegaraan maupun pertemuan informal sepanjang kiprah Mahathir di ranah publik.

Meski begitu, Dr. Siti Hasmah memiliki prinsip yang sangat teguh. Ia memilih untuk tidak terlibat secara langsung dalam urusan politik praktis suaminya. Bagi Siti, perannya yang paling mulia adalah sebagai mitra sejati, sahabat diskusi, dan sumber dukungan emosional yang tak tergantikan bagi sang suami. Semboyan tak tertulis yang kerap terdengar di kalangan publik, "Di mana ada Mahathir, di situ ada Siti Hasmah", menjadi cerminan paling akurat betapa eratnya ikatan yang mereka bangun.

Momen Manis dan Kutipan Penuh Makna di Masa Tua

Panjangnya usia pernikahan mereka kerap memantik kekaguman publik. Pada tahun 2021, saat usia pernikahan mereka telah mencapai 63 tahun, Mahathir pernah mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam.

"Saya beruntung memiliki Hasmah di sisi saya selama 63 tahun, melewati suka dan duka. Dia seorang dokter dan, tentu saja, merupakan sebuah bonus bahwa di usia saya saat ini, ada seorang dokter yang selalu mendampingi saya setiap saat," ujar Mahathir dengan nada penuh kelembutan dan penghargaan.

Tidak hanya itu, sisi romantis Mahathir juga tetap terlihat di masa tua. Pada tahun 2019, ia sempat membagikan foto mereka berdua saat sedang berjalan-jalan santai di Kuala Lumpur melalui media sosial. Dengan keterangan foto yang sederhana namun menyentuh, ia menulis, "Sekali sekala bawa Hasmah dating di KL" (Sesekali mengajak Hasmah berkencan di Kuala Lumpur). Momen ini menunjukkan bahwa cinta mereka tidak pernah pudar dimakan usia.

Buah Hati dan Warisan Keluarga yang Harmonis

Selama tujuh dekade mengarungi bahtera rumah tangga, pasangan legendaris ini dikaruniai empat orang anak kandung yang kini telah berhasil dan berkiprah di berbagai bidang. Mereka adalah Datin Paduka Marina, Tan Sri Mokhzani, Mirzan, dan Datuk Seri Mukhriz.

Selain itu, hati mereka yang luas juga membuka ruang untuk mengadopsi tiga anak angkat, yaitu Maizura, Mazhar, dan Melinda. Keharmonisan keluarga besar inilah yang menjadi fondasi kekuatan bagi Mahathir dan Siti Hasmah dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

Detik-Detik Perpisahan yang Mengharukan

Kini, setelah 70 tahun menikah, takdir Illahi telah memisahkan pasangan yang tak terpisahkan ini. Dr. Siti Hasmah Mohd Ali menghembuskan napas terakhirnya di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur, pada Senin (28/9/2026) dalam usia yang sangat sepuh, yakni 100 tahun.

Kematian sang istri meninggalkan duka yang mendalam bagi Mahathir Mohamad, yang kini berusia 101 tahun. Tangis pecah saat prosesi pemakaman berlangsung, menggambarkan betapa besarnya kehilangan yang dirasakan oleh seorang suami yang telah terbiasa menghabiskan setiap detak hidupnya bersama sang istri.

Wafatnya Dr. Siti Hasmah bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Mahathir, tetapi juga bagi rakyat Malaysia yang telah lama mengagumi keteladanan, kesetiaan, dan keanggunan sang istri mantan perdana menteri. Kisah cinta mereka akan terus dikenang sebagai salah satu legenda cinta abadi yang membuktikan bahwa kesetiaan sejati memang ada, dan mampu bertahan melampaui batas waktu hingga maut memisahkan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru