Aksi protes pelajar sekolah menengah atas di Prancis memaksa penutupan atau gangguan pendidikan di lebih dari 560 sekolah.
Gelombang demonstrasi yang dimulai pekan lalu di wilayah Paris itu menyebar cepat ke seluruh negeri.
Para pelajar tingkat akhir memblokir akses gedung sekolah dan terlibat bentrokan dengan polisi.
Mereka menuntut jam sekolah yang dinilai terlalu panjang, kondisi kelas yang tidak memadai, dan minimnya kehadiran guru.
Di Paris, kebakaran merusak pintu masuk dua SMA, yakni Leonard de Vinci di selatan kota dan Gaston-Bachelard di tenggara.
Petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api.
Seorang pelajar 15 tahun bernama Simon mengeluhkan kekosongan tenaga pengajar. Ia menyebut sekolahnya tidak memiliki guru sains selama setahun penuh dan tanpa buku pelajaran.
Simon menilai kondisi di sekolahnya masih tergolong beruntung dibandingkan daerah pinggiran. Ia menyebut situasi di wilayah suburban jauh lebih buruk.
Pemerintah Kutuk Kekerasan, Polisi Disebut Berlebihan
Pemerintah Prancis menilai keluhan para pelajar sah, namun mengecam apa yang disebut sebagai kekerasan urban.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyatakan gerakan pelajar disandera oleh kelompok pinggiran yang sangat brutal.
Kementerian Pendidikan melaporkan lebih dari 560 dari 3.700 SMA terdampak. Sehari sebelumnya, kementerian dalam negeri menyebut lebih dari 1.000 lycee terpengaruh.
Sejumlah sekolah merencanakan pembelajaran jarak jauh, terutama di kota Marseille. Geffray menyebut sedikitnya 65 staf terluka, termasuk 40 kepala sekolah, sejak gerakan dimulai.
Sekitar 170 pelajar dilaporkan terluka dan lebih dari 100 SMA mengalami kerusakan berat. Geffray meminta orang tua tegas melarang anak mereka ikut aksi karena berada dalam bahaya.
Menteri Kehakiman Gerald Darmanin meminta jaksa menuntut orang tua bertanggung jawab atas kerusakan yang disebabkan anak mereka.
Ia menyebut sekitar 2.000 orang ditahan polisi, dengan 90 persen di antaranya masih di bawah umur.
Para pelajar menuduh polisi menggunakan kekuatan berlebihan dan melukai mereka dengan gas air mata. Di Brest, polisi menembakkan gas air mata di SMA Kerichen.
Di Rennes, ketegangan terasa di luar SMA Jean-Mace. Pelajar berpakaian hitam dan mengenakan balaclava berdiri tak jauh dari barisan polisi.
Seorang pelajar 16 tahun bernama Lola menyebut sekolahnya tutup pada pagi itu. Ia mengecam kekerasan polisi dan menilai tindakan aparat membuat para pelajar semakin marah.
Protes ini bergema secara politik lebih dari setengah tahun sebelum pemilihan presiden. Pemerintah menuduh partai kiri keras France Unbowed (LFI) berada di belakang gerakan tersebut.
Pemimpin LFI Jean-Luc Melenchon kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden. Pejabat senior LFI Manuel Bompard menuduh pemerintah terjerumus ke dalam teori konspirasi.