unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Gempa Megathrust Belum Bisa Diprediksi, Pemetaan Terus Jalan
News

Gempa Megathrust Belum Bisa Diprediksi, Pemetaan Terus Jalan

Ilustrasi peta rawan gempa megathrust di Indonesia
Gempa Megathrust Belum Bisa Diprediksi, Pemetaan Terus Jalan
A A Ukuran Teks16px

Badan Geologi dan BMKG terus memetakan potensi gempa megathrust di zona subduksi Indonesia. Upaya ini mencakup identifikasi wilayah rawan dan penguatan sistem peringatan dini.

Meski demikian, waktu terjadinya gempa megathrust belum dapat diprediksi secara presisi. Hal ini disampaikan oleh Ahli Utama Badan Geologi Kementerian ESDM, Supartoyo.

"Kejadian gempa bumi hingga saat ini belum dapat diramalkan ya. Menyangkut kapan, di mana, dan berapa besar (guncangannya) itu belum terjawab dengan baik," ujar Supartoyo.

Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik utama: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Kondisi ini membentuk jalur subduksi di sepanjang pantai barat dan timur Nusantara.

Jalur subduksi tersebut berpotensi menghasilkan gempa bermagnitudo tinggi yang dapat memicu tsunami.

Beberapa daerah seperti Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan memiliki riwayat gempa megathrust yang menimbulkan kerusakan parah.

Peta Rawan Bencana dan Sistem Peringatan Dini

Untuk menekan risiko, Badan Geologi merilis peta kawasan rawan bencana. Peta ini menjadi panduan penataan ruang dan mitigasi berbasis data seismik.

Supartoyo menambahkan, "Dengan peta-peta yang diterbitkan oleh Badan Geologi ini, sebagai basis utama untuk melakukan upaya-upaya mitigasi maupun penataan ruang."

Selain pemetaan geologi, BMKG mengembangkan teknologi deteksi dini. Langkah ini dilakukan melalui penambahan sensor seismik dan penguatan sistem peringatan tsunami.

Mantan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, turut menyoroti pentingnya kesiapsiagaan masyarakat.

Rekaman aktivitas seismik dari stasiun pemantau di seluruh Indonesia menunjukkan pola pergeseran lempeng, namun belum cukup untuk memprediksi waktu gempa.

Pemerintah mengarahkan pemanfaatan data ini sebagai dasar pembangunan infrastruktur di kawasan yang lebih aman. Selain itu, regulasi bangunan tahan gempa terus diterapkan.

Simulasi evakuasi mandiri bagi warga pesisir dan pelatihan tanggap darurat untuk tenaga medis juga menjadi bagian dari upaya mitigasi.

Edukasi tindakan penyelamatan diri seperti "Drop, Cover, and Hold On" terus digalakkan untuk meminimalkan fatalitas korban.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru