Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan militer tegas hingga memusnahkan Iran.
Ancaman itu muncul setelah negosiasi diplomatik untuk mengakhiri konflik kedua negara mengalami jalan buntu pada awal Oktober 2026.
Jalur diplomasi yang dimediasi Qatar belum menghasilkan kesepakatan akhir, meski Teheran telah menerima respons terbaru dari Washington terkait usulan skema perdamaian.
Pemerintah AS juga mengambil langkah diplomatik keras dengan memerintahkan delegasi Iran yang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB untuk segera meninggalkan New York karena dinilai telah melebihi masa tinggal.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menginstruksikan pengusiran tersebut kepada misi diplomatik Iran pada Senin malam, 28 September 2026.
Langkah itu diambil setelah perundingan tidak menunjukkan perkembangan positif.
Delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi akhirnya meninggalkan New York menuju Doha, Qatar, pada Selasa dini hari, 29 September 2026, guna melanjutkan komunikasi melintasi mediator regional.
Trump: Memusnahkan Iran Ciptakan Perdamaian Dunia
Di tengah kebuntuan tersebut, Trump menegaskan posisi Washington saat diwawancarai TIME Magazine mengenai potensi eskalasi militer terhadap Iran.
"Dengan memusnahkan Iran, kita menciptakan perdamaian dunia," ujar Trump kepada TIME Magazine.
Trump menyebut keberadaan rezim saat ini di Teheran menjadi penghalang utama terciptanya stabilitas di kawasan Timur Tengah.
"Dengan adanya Iran, menurut saya perdamaian tidak akan pernah bisa terwujud," ia menambahkan.
Ketika ditanya kembali mengenai ancamannya yang berulang kali dilontarkan untuk membinasakan negara tersebut, Trump tidak menampik opsi militer masih berada di atas meja.
"Ya, saya akan melakukannya. Itu mungkin saja terjadi," katanya.
Trump juga mengisyaratkan bahwa titik temu negosiasi makin sulit dicapai setelah Washington menolak proposal Iran terkait pembukaan akses pelayaran Selat Hormuz selama tujuh hari.
Sebelumnya, Trump memberikan peringatan keras saat memberikan keterangan kepada pers di Gedung Putih mengenai tenggat waktu keputusan AS.
"Mungkin Anda menghancurkan mereka. Kami harus mengambil keputusan itu.
Kami menghancurkan mereka, atau membuat kesepakatan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu, dilansir dari Fox News.
Trump menekankan bahwa masa penentuan arah konflik ini tidak bisa ditunda lebih lama lagi.
"Tapi waktunya akan segera tiba. Ini akan segera berakhir, dengan satu cara atau cara lainnya," ujar Trump.
Sementara itu, pihak Teheran melalui Menlu Abbas Araghchi mengonfirmasi telah menerima tanggapan tertulis dari Washington terkait usulan "rencana tujuh hari".
Dilansir dari Reuters, perbedaan mendasar kedua pihak terletak pada urutan pelaksanaan poin-poin kesepakatan, bukan pada isi substansi rencana itu sendiri.
Proposal Iran mencakup komitmen pembukaan kembali Selat Hormuz dan pemulihan arus lalu lintas kapal energi dengan syarat AS mencabut blokade pelabuhan, menghentikan permusuhan, serta melonggarkan sanksi minyak.
Bersamaan dengan ketegangan diplomatik ini, militer AS menyelesaikan penarikan pasukan terakhirnya dari Irak pada Rabu berdasarkan kesepakatan bilateral tahun 2024.
Penarikan itu mengakhiri misi militer selama dua dekade meski kerja sama intelijen tetap berlanjut.
