Umat Islam di seluruh penjuru Nusantara kembali menyambut hari yang penuh rahmah, yakni hari Jumat. Bertepatan dengan Jumat, 9 Oktober 2026 atau 14 Rabiul Akhir 1448 H, mimbar-mimbar masjid akan diisi oleh para khatib untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual yang menyejukkan hati.
Sebagaimana diketahui, khutbah Jumat bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat sah dari pelaksanaan shalat Jumat. Para ulama sepakat, shalat Jumat tidak akan sah apabila tidak didahului oleh dua khutbah—khutbah pertama dan kedua—yang dipisahkan dengan duduk sejenak di antara keduanya.
Menjelang pertengahan Bulan Rabiul Akhir 1448 H ini, ada baiknya kita menengok sedikit ke belakang mengenai sejarah penamaan bulan ini. Menurut tradisi Arab Jahiliyah, bulan ini dinamakan oleh Kilab bin Murrah (kakek buyut Rasulullah SAW). Dinamakan Rabiul Akhir (atau Rabi'ul Tsani) karena pada masa itu, masyarakat Arab mulai menetap di rumah-rumah mereka setelah masa berperang atau bepergian, layaknya musim semi yang menandakan waktu untuk beristirahat dan menata kehidupan.
Bulan ini juga menyimpan jejak sejarah penting bagi umat Islam, di antaranya terkait turunnya Surat Al-Hasyr yang mengisahkan tentang ujian berat yang dihadapi Rasulullah SAW, termasuk upaya pengkhianatan dan upaya pembunuhan oleh kaum Yahudi Bani Nadhir. Ujian berat tersebut mengajarkan kita bahwa kehidupan dunia memang sarat dengan cobaan.
Lantas, bagaimana seharusnya seorang Muslim menghadapi ujian dan problema hidup di era modern ini? Teks khutbah Jumat edisi 9 Oktober 2026 ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan saat ini: Menyelaraskan Ikhtiar, Tawakal, dan Ridha Menerima Takdir.
Berikut adalah rangkuman pesan utama dan teks lengkap khutbah Jumat yang singkat, padat, namun sarat akan makna, cocok untuk disampaikan kepada para jemaah.
Rangkuman Pesan Khutbah: Rumus Bahagia Menghadapi Ujian Hidup
1. Takwa sebagai "Jalan Keluar" dari Segala Problema Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan hidup, khatib mengingatkan bahwa takwa bukanlah konsep yang abstrak. Takwa adalah solusi pragmatis dari langit. Merujuk pada Q.S. Ath-Thalaq ayat 2-3, Allah menjanjikan makhraja (jalan keluar) dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi mereka yang bertakwa. Ketika logika manusia mentok, takwa membuka pintu pertolongan Allah.
2. Metafora Perahu: Ikhtiar dan Tawakal Hidup ini ibarat mendayung perahu di lautan luas. Ikhtiar (usaha keras) adalah dayung di sebelah kanan, sedangkan tawakal (berserah diri kepada Allah) adalah dayung di sebelah kiri. Jika hanya mengandalkan tawakal tanpa ikhtiar, perahu akan berputar-putar di tempat. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan ikhtiar tanpa tawakal, hati akan mudah hancur ketika hasil tidak sesuai harapan. Keduanya harus dikayuh seimbang.
3. Belajar dari Kisah Umar bin Khattab dan Nabi Muhammad SAW Khatib akan mengulas dua kisah inspiratif. Pertama, teguran keras Umar bin Khattab kepada sekelompok orang yang hanya berdiam diri di masjid dan beralasan "bertawakal". Umar dengan tegas mengingatkan bahwa "langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak". Kedua, sabda Rasulullah SAW kepada seorang badui yang melepas untanya dengan alasan tawakal: "Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah."
4. Seni Menerima Takdir (Ridha) Puncak dari kebahagiaan seorang mukmin bukanlah ketika semua keinginannya terwujud, melainkan ketika ia mampu berdamai dengan takdir. Rasulullah SAW bersabda bahwa di antara kebahagiaan anak Adam adalah ridha terhadap ketetapan Allah.
Teks Lengkap Khutbah Jumat (Edisi 9 Oktober 2026)
Berikut adalah teks lengkap khutbah yang dapat dibaca atau dijadikan referensi oleh para khatib di seluruh Indonesia.
KHUTBAH PERTAMA
الحَمْدُ لِلهِ الذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ لِمَكَارِمِ الأَخْلَاقِ، وَهَدَاهُمْ لِمَا فِيْهِ فَلَاحِهِمْ وَسَعَادَتِهِمْ فِيْ الدُنْيَا وَيَوْمَ التَلَاقِ وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، الملك الكريم الخلاق، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله أفضل الخلق على الإطلاق، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان، وسلم تسليمًا. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِي نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Pada kesempatan yang sangat mulia di pertengahan Bulan Rabiul Akhir ini, khatib berwasiat untuk diri saya sendiri khususnya, serta kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa merupakan bekal terbaik, baik untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana ini, maupun untuk menyongsong kehidupan akhirat yang kekal.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'anul Karim:
فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)
Hadirin Rahimakumullah,
Takwa merupakan kompas dan jalan keluar ketika kita menghadapi kebuntuan dalam hidup. Ketakwaan itu membuka pintu pertolongan dari Allah SWT sehingga muncul solusi dari segala permasalahan. Bahkan, ayat di atas dengan tegas menegaskan bahwa ketika seseorang mengalami kesulitan rezeki, maka takwa adalah solusinya.
Permasalahan dalam kehidupan merupakan sebuah keniscayaan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal dari ujian, baik ia kaya maupun miskin, berilmu maupun tidak. Masalah adalah cara Allah menguji hamba-Nya untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.
Maka, bagi kita yang beriman, saat menghadapi masalah, kita harus berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Jangan lari dari masalah, karena lari dari masalah hanya akan menciptakan masalah yang lebih besar. Tetaplah berikhtiar. Namun setelah ikhtiar maksimal, apa yang harus dilakukan? Kita harus bertawakal.
Sebagaimana firman Allah SWT:
فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
"Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (Q.S. Ali ‘Imran: 159).
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah,
Ikhtiar dan tawakal adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ibarat mendayung perahu, ikhtiar adalah dayung kanan dan tawakal adalah dayung kiri. Jika dikayuh seimbang, kita akan sampai ke tepian dengan selamat.
Kesatuan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Suatu hari, saat Rasulullah hendak shalat Asar di Madinah, datang seorang sahabat membawa unta merahnya yang berharga mahal. Namun, ia melepas unta itu begitu saja di luar masjid dan masuk untuk shalat.
Rasulullah bertanya, "Wahai saudara, mengapa engkau lepaskan untamu?" Orang itu menjawab dengan polos, "Aku bertawakal kepada Allah, ya Rasulullah. Jika Allah takdirkan hilang, meski diikat pasti hilang. Jika Allah takdirkan selamat, meski dilepas pasti selamat."
Mendengar logika yang keliru tersebut, Rasulullah SAW dengan lembut namun tegas menegur, "Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah." (HR. Tirmidzi).
Bahkan sahabat Umar bin Khattab pernah menegur keras sekelompok orang yang hanya duduk di masjid dan enggan bekerja dengan alasan tawakal. Umar berkata, "Langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak untuk kalian! Janganlah kalian meninggalkan pencarian rezeki dan hanya beralasan tawakal, karena kalian tahu langit tidak akan menurunkan hujan uang!"
Jamaah yang Dimuliakan Allah,
Dari kisah-kisah tersebut, kita belajar bahwa tawakal tanpa ikhtiar adalah kekeliruan, dan ikhtiar tanpa tawakal adalah kesombongan. Dalam kehidupan nyata, usaha kita tidak selalu sepadan dengan asa. Ada misteri ilahiah di balik setiap proses. Terkadang kita sudah berusaha keras namun gagal, terkadang kita berusaha ala kadarnya namun hasilnya melampaui ekspektasi.
Di sinilah letak ujian terbesar seorang mukmin: Sikap Ridha. Rasulullah SAW bersabda:
وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ
"Di antara kebahagiaan anak Adam adalah ridha terhadap takdir Allah, dan di antara kesengsaraannya adalah kebenciannya (ketidakridhaannya) terhadap takdir Allah." (HR. Tirmidzi).
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk melakukan ikhtiar terbaik, dianugerahi hati yang teguh untuk bertawakal, serta dijernihkan jiwa kita untuk selalu ridha menerima segala ketetapan Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
(Duduk sejenak di antara dua khutbah)
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
