unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Lobang Buaya Dinilai Gagal Padukan Horor, Sejarah, dan Thriller
Hiburan

Lobang Buaya Dinilai Gagal Padukan Horor, Sejarah, dan Thriller

Poster atau adegan film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo
Lobang Buaya Dinilai Gagal Padukan Horor, Sejarah, dan Thriller
A A Ukuran Teks16px

Film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo menuai banyak catatan. Meski latar waktu dan gagasan ceritanya bisa diperdebatkan, hasil akhirnya dinilai jauh dari memuaskan.

Hanung dan Haqi Ahmad menulis cerita film ini. Ada pula hasil riset Hagai Pakan untuk kostum yang berfondasi sejarah.

Hanung menegaskan Lobang Buaya adalah film fiksi.

Film ini lahir dari obsesinya menggarap ulang Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) versi modern yang batal terwujud.

Mimpi menggarap ulang film itu masih terlihat dalam adegan yang tayang. Latar waktu cerita berada sekitar setahun sebelum tragedi berdarah tersebut terjadi.

Namun alasan Hanung dan Haqi mengarang drama misteri berbalut horor dan thriller masih jadi misteri. Formula fiksi, sejarah, horor, religi, konspirasi, dan thriller dinilai tidak saling mendukung.

Hanung terasa ugal-ugalan mengorkestrasi semua elemen itu dalam 113 menit. Hasilnya jauh dari kata padu.

Akan lebih mulus bila Hanung fokus pada satu sampai tiga elemen yang diperdalam. Dengan begitu, penonton bisa menikmati alur dan memahami ceritanya.

Catatan untuk Kostum dan Penampilan Pemain

Tujuan Hanung agar anak muda tidak melupakan sejarah dan misteri tragedi G30S memang mulia.

Hanya saja, penggunaan dialek dan diksi modern dalam percakapan karakter membuat film berlatar 1964 ini terasa ganjil.

Keganjilan juga terasa dari efek visual dan komputerisasi dalam sejumlah adegan horor.

Penggunaan efek visual yang aneh menunjukkan standar efek visual Hanung belum berkembang berarti sejak Tuhan Izinkan Aku Berdosa (2023).

Tata rias dan prostetik untuk adegan horor terbilang apik. Tim rias paham membuat riasan yang natural dan sesuai latar waktu ceritanya.

Sayangnya, hasil itu belum diimbangi riset Hagai Pakan. Ia biasanya lihai memilih kostum untuk para pemain, namun kali ini meleset untuk karakter angkatan bersenjata.

Karakter-karakter tersebut punya screen time yang banyak. Ketidakmiripan kostum terpampang nyata di layar.

Mulai dari jenis warna hijau, model dan jenis kancing, tanda pangkat, hingga jenis nametag, semuanya jauh dari citra aparat angkatan bersenjata.

Bahkan untuk menyamai gambaran aparat bersenjata pada Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) pun masih jauh.

Hagai Pakan seolah mati ide sehingga memilih model baju safari yang penting hijau untuk pakaian karakter Letnan Kolonel yang dibawakan Baskara Mahendra.

Padahal, polisi hutan atau mahasiswa perkebunan juga berseragam lapang safari berwarna hijau.

Catatan juga ada untuk tim hair-do.

Entah tidak mendapatkan restu memotong rambut Baskara atau tidak menyiapkan hair-cut ala tentara, yang jelas ada tentara dengan rambut sepanjang milik Baskara.

Military hair look yang cepak adalah standar penampilan tentara dan sudah ada sejak dahulu.

Melihat Baskara yang memerankan prajurit berjabatan cukup tinggi tapi rambutnya menyentuh kuping atau mengembang di bagian atas kepala sudah mengganggu estetika film berunsur militer.

Setelah rambut, Baskara juga tampak tidak melakukan latihan fisik untuk meresapi perannya.

Walau tidak ada tuntutan adegan aksi fisik, rupa yang ditampilkan Baskara sebagai Soegeng meragukan validitas karakternya sebagai prajurit militer.

Padahal, Khiva Iskak sebagai lawan main Baskara tampil apik sebagai karakter antagonis. Khiva mampu memainkan perkembangan karakter Suradi yang ekstrem, bahkan menyajikan aura kegilaan psikopat di hadapan kamera.

Suadi Utama selaku penata kamera juga mampu menangkap momen dan pose adegan yang apik. Ia paham memadukan dramatisasi emosi para karakter, terutama Khiva, dengan komponen gambar lainnya.

Bagian lighting dan editing juga bekerja baik mendukung hasil tangkapan Suadi.

Meski ada sejumlah set yang kurang cocok, seperti warna cat rumah daur ulang Gowok (2025) untuk kediaman Sukarya (Mathias Muchus) serta bentuk atap rumah warga yang tidak mencerminkan gambaran asli Desa Lobang Buaya pada 1960-an, kerja keras tim desainer produksi membangun set lokasi patut diapresiasi.

Terlepas dari berondongan catatan untuk Lobang Buaya, film ini mengajarkan satu hal: imajinasi itu penting, terutama dalam menyiasati obsesi yang batal terwujud.

Namun seimajinatifnya imajinasi, keputusan yang realistis dan logis tetap dibutuhkan untuk memadukan gagasan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru