unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Maksimal Amalan Saleh di Penghujung Bulan Muharram, Jangan Sampai Terlewat!
News

Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Maksimal Amalan Saleh di Penghujung Bulan Muharram, Jangan Sampai Terlewat!

Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Maksimal Amalan Saleh di Penghujung Bulan Muharram, Jangan Sampai Terlewat!
Menag: Masjid Istiqlal Jadi Masjid Pertama yang Masuk BEI
A A Ukuran Teks16px

Waktu terus bergulir tanpa jeda. Tak terasa, kita telah memasuki paruh kedua dari bulan Muharram, bulan pertama dalam penanggalan Hijriah yang sarat akan kemuliaan. Sebagai salah satu dari empat bulan haram (suci) yang diistimewakan oleh Allah SWT, Muharram menawarkan ladang pahala yang luas bagi siapa saja yang mau memanfaatkannya.

Lantas, bagaimana sikap kita sebagai umat Islam ketika menyadari bahwa bulan mulia ini akan segera berlalu? Apakah kita akan membiarkannya lewat begitu saja, atau justru memanen sebanyak-banyaknya keberkahan di hari-hari terakhirnya?

Berdasarkan rangkuman Khutbah Jumat pada 9 Oktober 2026, ada sebuah pengingat penting bahwa keterbatasan waktu seharusnya tidak menyurutkan semangat kita. Justru, menyongsong akhir bulan Muharram adalah momentum emas untuk "tancap gas" memperbanyak amalan saleh.

Filosofi "Pilihan" dan Keistimewaan Bulan Haram

Dalam khutbahnya, disampaikan sebuah refleksi teologis yang mendalam tentang konsep "pilihan" dari Allah SWT. Allah memiliki hak prerogatif mutlak untuk memilih dan memuliakan siapa pun dari ciptaan-Nya.

Allah memilih manusia terbaik untuk menjadi Nabi, memilih para Nabi terbaik untuk menjadi Rasul Ulul Azmi, dan puncak dari segala pilihan itu adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hal ini sejalan dengan firman-Nya:

“Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qashash: 68).

Sama halnya dengan waktu. Dari dua belas bulan yang ada dalam satu tahun, Allah secara spesifik memilih dan memuliakan empat bulan di antaranya, yang dikenal sebagai Ashurul Hurum (bulan-bulan haram/suci), salah satunya adalah Muharram.

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu).” (QS. At-Taubah: 36).

Frasa "menzalimi diri sendiri" pada ayat di atas memiliki makna yang sangat luas. Para ulama menafsirkannya sebagai larangan keras untuk melakukan dosa dan maksiat di bulan-bulan suci ini, karena dosa yang dilakukan di waktu dan tempat yang mulia akan tercatat lebih berat. Sebaliknya, amal saleh di bulan ini juga akan dilipatgandakan pahalanya.

Tiga Amalan "Jalur Langit" di Akhir Muharram

Mumpung sisa hari di bulan Muharram masih ada, berikut adalah tiga amalan prioritas yang sangat dianjurkan untuk didawamkan (dilanggengkan) dan digenjot intensitasnya:

1. Membaca Al-Quran: Investasi Abadi dan Terapi Jiwa

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sering kali memicu stres dan kecemasan, Al-Quran hadir bukan sekadar sebagai bacaan ritual, melainkan sebagai kebutuhan pokok dan terapi jiwa yang paling mujarab.

Membaca Al-Quran di penghujung Muharram adalah investasi jangka panjang. Setiap huruf yang dilantunkan dengan penuh kekhusyukan akan menjadi cahaya di kegelapan alam kubur, menjadi teman setia saat kita sendirian, serta menjadi pemberi syafaat di hari pembalasan. Jadikan Al-Quran sebagai pedoman, bukan beban.

2. Dzikir dan Doa: Mengetuk Pintu Langit di Waktu Mustajab

Bulan Muharram adalah "pintu terbuka" lebar-lebar bagi hamba yang ingin mengetuk pintu langit. Dzikir bukan sekadar gerak bibir, melainkan upaya menjaga kesadaran spiritual agar hati tetap lembut dan terhubung dengan Sang Pencipta di setiap detak jantung.

Manfaatkanlah waktu-waktu sunyi dan mustajab, seperti sepertiga malam terakhir, jeda antara adzan dan iqamah, hingga sujud terakhir dalam salat. Siapa yang bersungguh-sungguh berdoa di bulan mulia ini, ia sedang membangun jembatan harapan untuk meraih ridha Allah dan kemudahan di masa depan.

3. Sedekah: Penghapus Dosa dan Penangkal Musibah

Secara logika matematika, harta yang dibagi akan berkurang. Namun dalam "matematika" ilahiah, sedekah justru melipatgandakan rezeki dan mendatangkan kejutan-kejutan tak terduga.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bersedekah itu dapat menghapus dosa, sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).

Lebih dari itu, sedekah di bulan haram berfungsi sebagai perisai. Ia mampu menolak bala, mencegah musibah, menyelamatkan dari kematian yang buruk, bahkan menjadi sarana ikhtiar penyembuhan penyakit. Jangan ragu untuk berbagi, karena harta yang hakikatnya kita miliki hanyalah yang kita sedekahkan.

Menjaga Diri dari Permusuhan dan Dosa

Selain memperbanyak tiga amalan di atas, khutbah juga memberikan peringatan keras untuk menjaga lisan, perbuatan, dan hubungan sosial. Bulan Muharram adalah bulan suci, sehingga sangat tidak pantas jika diisi dengan permusuhan, pertumpahan darah, atau kezaliman.

Merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 217, berperang atau memulai permusuhan di bulan haram adalah dosa besar. Namun, Islam adalah agama yang adil. Jika umat Islam diserang atau diperangi terlebih dahulu, maka membela diri tetap diperbolehkan meskipun sedang berada di bulan suci. Intinya, bulan mulia harus diisi dengan kedamaian, bukan inisiasi kejahatan.

Refleksi Akhir: Selagi Napas Masih Berembus

Sebagai penutup, ada sebuah renungan mendalam yang patut kita bawa pulang. Waktu adalah satu-satunya aset yang tidak pernah bisa diputar ulang.

Selagi Allah masih memberikan umur, selagi raga masih memiliki kekuatan, dan selagi bulan Muharram yang mulia ini belum benar-benar berlalu, mari kita manfaatkan setiap detiknya. Jadikan akhir bulan ini sebagai titik tolak untuk mengubah kebiasaan, memperbanyak tabungan amal saleh, dan memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih bertakwa.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan bulan-bulan mulia di tahun-tahun berikutnya. Amin ya Rabbal 'Alamin.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru