Leonardo DiCaprio kembali menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan dan Sumatra. Aktor Hollywood itu membagikan kondisi satwa liar yang terdampak melalui unggahan di media sosial.
Dalam unggahannya, DiCaprio menyebut lebih dari 2 juta are atau sekitar 800 ribu hektare hutan habis terbakar di kedua wilayah tersebut.
Ia menyoroti dampaknya terhadap habitat orangutan Kalimantan dan owa ungko Kalimantan.
Dampak Kebakaran pada Satwa dan Krisis Iklim
DiCaprio menilai perubahan iklim membuat hutan di Kalimantan menjadi lebih kering, lebih panas, dan lebih rentan terhadap kebakaran.
Menurutnya, kebakaran sering kali dimulai oleh manusia untuk membuka lahan pertanian.
Ia juga menyoroti bahwa ketika lahan gambut yang kaya karbon terbakar, sejumlah besar karbon yang tersimpan turut terlepas.
Hal itu, katanya, makin memperparah krisis iklim dan keanekaragaman hayati.
DiCaprio menyebut lebih dari 5 juta orang telah terpapar asap kebakaran hutan. Orangutan Kalimantan terlihat melarikan diri dari hutan yang terbakar seiring hilangnya habitat mereka.
Orangutan tersebut diselamatkan oleh BKSDA Kalimantan Tengah dengan dukungan BOS Foundation. Satwa itu kini sedang dalam perawatan medis.
Sementara itu, owa ungko Kalimantan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon memiliki sedikit pilihan untuk melarikan diri.
Api yang melahap hutan di sekitar mereka membuat satwa itu sulit menyelamatkan diri.
Selain menyoroti kondisi satwa, DiCaprio mengajak pengikutnya untuk turut membantu penanganan kebakaran hutan. Ia mengarahkan dukungan melalui Re:wild, organisasi konservasi lingkungan nirlaba global yang ia dirikan.
Menurut keterangan di situs Re:wild, dukungan tersebut dapat membantu menyediakan sumber daya yang dibutuhkan organisasi pemadam kebakaran di lapangan.
Donasi disebut dapat memperkuat upaya pemadaman di garis depan, melindungi habitat kritis kera, serta mendukung tim yang bekerja mencegah kehilangan satwa liar dan hutan lebih lanjut.
Berdasarkan Dashboard Informasi Penanganan Karhutla milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (6/10), masih terdapat 10.195 titik panas dan 219 titik api karhutla di enam provinsi Indonesia.
Enam provinsi tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
