Pemerintah Kota Jambi meluncurkan program Semai Agrobiopori di RT 09, Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, pada Kamis (07/10/2026).
Program ini bertujuan mengembangkan urban farming terintegrasi dengan memanfaatkan pekarangan dan mengolah sampah organik rumah tangga.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi mencatat luas lahan pertanian di kota itu sekitar 511 hektare. Program diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi.
Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha menilai keterbatasan lahan perkotaan membutuhkan pola pertanian yang menyesuaikan permukiman.
“Dengan kondisi Kota Jambi yang memiliki keterbatasan lahan, urban farming menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan.
Salah satunya dengan memanfaatkan lahan pekarangan di sekitar permukiman masyarakat,” ujar Diza.
Diza juga mengaitkan agrobiopori dengan pemanfaatan sampah organik sebagai bahan pupuk untuk tanaman pekarangan.
“Kalau masyarakat memiliki pekarangan, bisa ditambahkan pipa-pipa agrobiopori.
Sisa makanan atau sampah organik rumah tangga yang sesuai dapat dimasukkan ke dalamnya dan nantinya menghasilkan pupuk yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman,” jelasnya.
Pemerintah Kota Jambi melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mendorong pemanfaatan lahan yang tersedia agar tetap produktif dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Ini merupakan cara yang organik dan inovatif. Program ini diinisiasi oleh rekan-rekan dari Dinas Pertanian Kota Jambi.
Mudah-mudahan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat dan dapat menjadi percontohan,” kata Diza.
Diza menyebut kondisi cuaca tetap menjadi tantangan bagi kegiatan budidaya, tetapi lahan perkotaan dinilai masih dapat dimanfaatkan melalui inovasi.
“Di tengah kondisi cuaca seperti sekarang, memang menanam memiliki tantangan tersendiri. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa memanfaatkan kondisi yang ada.
Kita harus terus berinovasi agar lahan yang tersedia tetap produktif dan memberikan manfaat,” ujarnya.
Pilot Project dan Dukungan DLH
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi Evridal Asri menyebut Semai Agrobiopori menggabungkan budidaya dengan pengelolaan lingkungan di tengah keterbatasan lahan.
“Dengan keterbatasan lahan pertanian, kita harus berinovasi.
Salah satunya melalui Semai Agrobiopori dengan memanfaatkan lahan kosong, lahan sempit, dan pekarangan rumah untuk kegiatan budidaya,” jelas Evridal.
Dalam pengelolaan sampah, program tersebut memanfaatkan sampah organik sebagai bahan pupuk, sedangkan sampah anorganik diarahkan melalui konsep 3R.
“Sampah organik dapat dimanfaatkan melalui agrobiopori untuk menghasilkan pupuk yang kemudian digunakan dalam kegiatan budidaya. Sementara sampah anorganik akan dikelola melalui konsep 3R,” kata Evridal.
Evridal mengatakan tahap awal program masih berupa proyek percontohan di Kelurahan Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, dan Kelurahan Pinang Merah Kecamatan Alam Barajo.
“Untuk saat ini masih berupa pilot project atau percontohan. Pada 2027 nanti kita berharap program ini dapat direplikasi pada kelompok-kelompok tani lainnya.
Pemerintah akan terus mendorong melalui pendampingan dan pembinaan teknis,” ujar Evridal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi Mahruzar mendukung program tersebut karena sejalan dengan upaya pengurangan sampah dari sumbernya.
“DLH tentu sangat mendukung kegiatan ini karena sejalan dengan upaya mengurangi sampah dari sumbernya.
Dengan adanya agrobiopori, sampah organik dapat dipilah dan dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman di lingkungan rumah masing-masing,” kata Mahruzar.
Ketua Kelompok Tani Teman Abadi Abrianto mengatakan penerapan agrobiopori membantu pemanfaatan pekarangan dan pengolahan sampah organik rumah tangga di kawasan KWT Serasi.
“Alhamdulillah, hari ini kami kedatangan Bapak Wakil Wali Kota Jambi dalam rangka launching agrobiopori di kawasan KWT Serasi.
Program ini membantu kami memanfaatkan pekarangan sekaligus mengolah sampah organik rumah tangga,” kata Abrianto.
Abrianto menyebut pupuk organik dari agrobiopori dapat dipanen sekitar tiga bulan. Pupuk tersebut digunakan untuk tanaman yang dibudidayakan kelompok, termasuk cabai, sementara melon direncanakan menjadi tanaman berikutnya.
“Pupuk organik ini nantinya bisa dipanen sekitar tiga bulan dan dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman. Saat ini kami menanam cabai, dan ke depan berencana menanam melon.
Biasanya kami juga menanam bayam dan kangkung,” kata Abrianto.
