Ditjenpas Jambi menyiapkan rantai pasok pangan antar-lapas dengan menghubungkan produksi komoditas unggulan setiap UPT ke kebutuhan dapur dan masyarakat.
Skema ini mencakup Lapas Muara Sabak dan Lapas Muara Bulian, serta direncanakan pada 8 Oktober 2026.
Lapas Muara Sabak memiliki sekitar 1.000 ayam petelur yang produksinya diarahkan memasok Lapas Sengeti dan Lapas Muara Bulian.
UPT lain dapat menyediakan komoditas berbeda seperti beras atau tempe.
Klasterisasi Komoditas per Wilayah
Kepala Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Jambi menyatakan pembagian produksi tersebut diarahkan membentuk ekosistem ekonomi internal melalui distribusi pangan antar-lapas.
"Sehingga perputaran ekonomi ini menjadi satu ekosistem ekonomi yang terbangun di dalam lapas itu sendiri, bahkan harapannya ini ada klaster," kata Kepala Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Jambi.
Irwan Rahmat Gumilar menjelaskan klasterisasi dilakukan dengan membagi komoditas berdasarkan wilayah pemasyarakatan.
Pola tersebut ditujukan agar kebutuhan pangan dapur dapat terhubung melalui pasokan dari UPT berbeda.
"Misalkan area Jambi dan sekitarnya ini telur dipasok dari lapas ini, kemudian tempe dipasok dari lapas ini, itu menjadi satu siklus rantai pasok untuk makanan yang ada di dapur," kata Irwan.
Skema distribusi antar-lapas juga diarahkan untuk menekan biaya pengadaan bahan makanan dan memperkuat sinergi antar-UPT.
Di Lapas Muara Bulian, diversifikasi ketahanan pangan dilakukan melalui budidaya lobster air tawar.
Benih ditebar pada 3 Oktober 2026 dan kegiatan tersebut juga menjadi sarana keterampilan produktif bagi warga binaan.
Irwan Rahmat Gumilar menilai pengembangan lobster dapat menambah pilihan kegiatan ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
"Ini merupakan inovasi yang sangat baik. Ketahanan pangan harus terus dikembangkan dan tidak hanya terpaku pada satu jenis kegiatan.
Budidaya lobster air tawar menjadi salah satu alternatif yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan," ujar Irwan Rahmat Gumilar.
Ia juga mengaitkan kegiatan tersebut dengan pembekalan keterampilan bagi warga binaan agar dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.
"Yang paling penting adalah bagaimana kegiatan ini dapat memberikan keterampilan dan pengalaman kepada warga binaan.
Sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat, ada pengetahuan dan keterampilan yang dapat dikembangkan secara mandiri," tambah Irwan Rahmat Gumilar.
Selain budidaya lobster, Lapas Muara Bulian meresmikan mesin penggilingan padi.
Fasilitas itu diharapkan menampung gabah masyarakat untuk diolah menjadi beras dan dipasarkan kembali dengan harga lebih terjangkau.
Irwan Rahmat Gumilar menyebut mesin tersebut diharapkan melayani kebutuhan internal pemasyarakatan sekaligus masyarakat sekitar.
"Kita berharap mesin penggilingan padi ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Gabah dari masyarakat dapat ditampung dan diolah, kemudian berasnya dapat kembali dipasarkan kepada masyarakat dengan harga yang terjangkau," kata Irwan.
Kepala Lapas Muara Bulian M. Ilham Santoso mengatakan pengembangan lobster dilakukan bertahap, mulai dari pembenihan dan pemeliharaan hingga menghasilkan komoditas bernilai ekonomi.
"Kami terus berupaya mengembangkan inovasi di bidang ketahanan pangan.
Budidaya lobster air tawar ini menjadi salah satu program yang akan kami kembangkan secara bertahap, mulai dari proses pembenihan, pemeliharaan hingga nantinya dapat menghasilkan lobster yang memiliki nilai ekonomi," ungkap M.
Ilham Santoso.
M.
Ilham Santoso juga menyatakan mesin penggilingan padi akan dioptimalkan untuk program internal dan penampungan gabah dari masyarakat sekitar.
"Kami sangat bersyukur dengan adanya fasilitas mesin penggilingan padi ini.
Ke depan, kami akan berupaya mengoptimalkan tidak hanya untuk mendukung program ketahanan pangan Lapas, tetapi juga untuk menampung gabah dari masyarakat sekitar.
Gabah tersebut nantinya dapat kami olah menjadi beras sehingga memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh beras dengan harga yang lebih terjangkau," ungkap M.
Ilham Santoso.
