Bank sentral China menegaskan negaranya tidak memiliki kebutuhan maupun niat melemahkan yuan untuk memperoleh keunggulan dagang.
Pernyataan itu sekaligus membantah kritik sejumlah mitra dagang Barat, termasuk Uni Eropa, soal dugaan undervaluasi mata uang China.
People's Bank of China (PBOC) menyatakan pihaknya tidak pernah terlibat dalam devaluasi mata uang secara kompetitif.
Menurut PBOC, tuduhan bahwa China sengaja menjaga yuan tetap lemah agar ekspor lebih murah dan barang impor lebih mahal tidak berdasar.
Pernyataan ini muncul saat Kepala Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic berada di Beijing untuk membahas upaya mempersempit defisit dagang blok itu dengan China.
Sepanjang tahun ini, yuan tercatat menguat sekitar 4 persen terhadap dolar AS.
Penguatan itu terjadi di tengah tekanan dari melebarnya selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah AS dan China.
Kritik Uni Eropa dan Data Defisit Dagang
Dalam pidatonya pada Juni, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mendesak para pemimpin global membahas undervaluasi mata uang China.
Menurut Lagarde, hal itu menjadi salah satu faktor ketidakseimbangan yang membahayakan perekonomian global.
Uni Eropa sendiri menaruh perhatian pada ketidakseimbangan dagang dengan China yang mencapai 360,6 miliar euro pada 2025.
Angka itu naik 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya berdasarkan data Uni Eropa.
PBOC menegaskan China membiarkan pasar berperan menentukan dalam pembentukan nilai tukar.
Bank sentral juga menyatakan tidak menetapkan target nilai tukar atau mengintervensi tren jangka panjang.
PBOC menilai menyalahkan nilai tukar negara lain atas penurunan daya saing industri, melemahnya disiplin fiskal dan keuangan, serta masalah struktural yang rumit sama dengan menghindari tanggung jawab sendiri.
Selain itu, China akan melaporkan data tambahan terkait valuta asing kepada Dana Moneter Internasional (IMF) mulai 2027.