Sir Alex Ferguson mengaku khawatir tidak sempat menyaksikan pembukaan stadion baru Manchester United. Proyek berkapasitas 100.000 penonton itu ditargetkan selesai dalam lima hingga enam tahun.
Kekhawatiran tersebut ia tuangkan dalam buku terbarunya, Games of My Life. Ferguson memperkirakan usianya akan mendekati 90 tahun saat stadion anyar itu diresmikan.
Menurut Goal, proyek bernilai £2 miliar itu diperkirakan rampung pada awal musim 2030/2031. Ferguson berharap pembangunan bisa segera dimulai agar ia masih bisa hadir.
"Saya berharap mereka bisa segera memulai pembangunan, karena jika butuh lima tahun untuk menyelesaikannya, usia saya akan mendekati 90 tahun," tulis Ferguson.
Meski begitu, ia tetap yakin akan berada di upacara pembukaan.
"Namun, saya tahu saya akan berada di upacara itu dengan satu atau lain cara, secara langsung ataupun dalam roh," tulisnya.
Refleksi Kehidupan dan Kesehatan
Ferguson menegaskan tidak ingin hidup dalam ketakutan terhadap kematian.
"Saya bukan orang yang larut memikirkan apa yang telah Sang Pencipta siapkan untuk saya, dan saya juga tidak takut mati," tulisnya.
Ia menyebut perhatian utamanya kini adalah menikmati waktu bersama orang-orang terdekat. "Kefanaan selalu menyertai kita, bahkan pada saat-saat yang paling tidak terduga.
Saya jauh lebih tertarik memaksimalkan hidup," tulis Ferguson.
Refleksi itu berkaitan dengan pengalaman medis serius yang pernah dialaminya. Ferguson mengungkap kembali operasi otaknya di Salford Royal dan peluang bertahannya saat itu.
"Dunia saya nyaris berakhir.
Pada hari mereka mengoperasi saya di Salford Royal, empat pasien lain juga menjalani operasi untuk keluhan yang sama.
Hanya dua dari kami yang hidup untuk menceritakannya," kata Ferguson.
Ia menilai keselamatan tersebut dipengaruhi banyak rangkaian pertolongan, mulai dari keluarga hingga penanganan medis. Ferguson juga menyampaikan empati kepada keluarga pasien yang tidak selamat.
"Saya selamat, bukan karena saya menerima perlakuan khusus, tetapi karena serangkaian kejadian yang menguntungkan," ujarnya. "Hati saya tertuju kepada keluarga mereka yang tidak seberuntung saya pada hari itu."
Kepulangannya ke Old Trafford setelah masa pemulihan juga meninggalkan kesan mendalam. Ia mengingat sambutan komunitas Manchester United saat menyaksikan hasil imbang 1-1 melawan Wolves.
"Sejak momen saya turun dari mobil di stadion, saya merasa seolah seluruh komunitas membuka hati mereka untuk saya," kenang Ferguson.
Pensiun dan Arsip Ferguson
Dalam Games of My Life, Ferguson juga mengungkap sisi emosional ketika memutuskan pensiun pada 2013.
Setelah memberi tahu pemain dan staf di Carrington, ia kembali ke kantor dan menangis sendirian.
"Saya baru benar-benar merasakannya ketika kembali ke kantor dan menutup pintu. Saya hanya duduk di meja dan menangis," tulis Ferguson.
Keputusan itu mengakhiri lebih dari 26 tahun kepemimpinannya di Manchester United. Ferguson juga menyesali kegagalannya meyakinkan Pep Guardiola untuk menjadi penerusnya.
"Jika bisa memutar kembali waktu, kami seharusnya makan malam beberapa bulan lebih awal.
Saya akan menuangkan banyak Tignanello dan berusaha sekuat tenaga meyakinkannya bahwa masa depannya ada di Manchester," tulis Ferguson.
Ia kemudian mengakui bahwa Guardiola akhirnya memilih Bayern Munchen pada Juli 2013. "Sayangnya, bagi kami, masa depannya memang ada di sana.
Cukup soal itu," lanjut Ferguson.
Selain memoar tersebut, Wayne Barton mengungkap arsip dalam Fergie: The Lost Tapes yang memuat lebih dari 400 jam rekaman wawancara Ferguson dari 1986 hingga 2009.
Proses digitalisasi dan pengarsipan materi itu berlangsung sekitar 18 bulan.
"Permata dari koleksi itu jelas audionya. Awalnya saya tidak benar-benar tahu apa isinya, hanya kaset dan minidisc," ujar Barton.
Rekaman tersebut terutama mendokumentasikan percakapan Ferguson bersama Tom Tyrell di The Cliff, termasuk periode sebelum Manchester United meraih kesuksesan besar pada 1993.
"Saya mulai mendengarkannya dan ternyata pada dasarnya semuanya ada, dari 1986 hingga 2009, dari aktivitas hariannya, terutama bersama Ferguson di The Cliff," kata Barton.
Barton menilai materi paling menarik justru berasal dari masa awal Ferguson ketika Manchester United belum mencapai puncak prestasi.
"Anda seperti melihat ke dalam pikiran seseorang yang sedang berusaha membalikkan kapal tanker," tuturnya.
Arsip itu juga merekam periode menjelang kepergian Roy Keane setelah kekalahan 1-4 dari Middlesbrough pada Oktober 2005. Ferguson saat itu menegaskan batas kritik terhadap klub.
"Dia berbicara dengan sangat keras bahwa kritik harus tetap berada di dalam klub, dan dia sangat terarah," kata Barton.
"Dia bahkan tidak merujuk kepada sesuatu yang telah terjadi selain MU sedang mengalami periode buruk."