unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.899, Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif
News

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.899, Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.899, Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.899, Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Pergerakan itu dipengaruhi harga minyak mentah dunia, imbal hasil obligasi global, dan data inflasi Amerika Serikat (AS).

Proyeksi tersebut muncul di tengah penguatan rupiah pada penutupan Jumat (9/10/2026). Meski menguat harian, rupiah masih mencatat pelemahan dalam sepekan.

Rupiah spot ditutup pada Rp 17.899 per dolar AS, menguat 0,09% dibandingkan posisi sehari sebelumnya Rp 17.915 per dolar AS.

Namun, secara mingguan mata uang Indonesia itu melemah 0,95%.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat 0,03% secara harian menjadi Rp 17.884 per dolar AS.

Berbeda dengan rupiah spot, JISDOR mencatat penguatan 0,78% selama sepekan terakhir.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah akhir pekan didukung faktor eksternal dan domestik.

Penurunan harga minyak mentah dunia serta pelemahan dolar AS menjadi pendorong utama.

"Penguatan rupiah tersebut didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia dan pelemahan dolar AS," ujar Lukman Leong kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menurun setelah lelang obligasi tenor 30 tahun mencatat permintaan kuat.

Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun turun 0,13% secara harian menjadi 5,62%.

Dari dalam negeri, pertumbuhan penjualan ritel Indonesia yang mencapai tingkat tertinggi dalam lima bulan terakhir turut memberikan dukungan.

Meski demikian, Lukman menilai penguatan akhir pekan belum cukup menunjukkan tren apresiasi berkelanjutan.

Ketidakpastian masih berasal dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang fluktuatif. Sentimen investor yang lemah terhadap obligasi pemerintah di sejumlah kawasan, termasuk AS, Eropa, dan Jepang, juga membayangi.

Kenaikan kembali imbal hasil obligasi global berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi global.

Dari dalam negeri, tidak ada rilis data ekonomi utama yang menjadi perhatian pasar pada periode tersebut.

Perhatian investor tertuju pada publikasi data inflasi AS melalui consumer price index (CPI) dan producer price index (PPI).

Kedua indikator itu dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar AS. Dampaknya selanjutnya akan terasa pada rupiah.

Lukman Leong memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.050 per dolar AS selama sepekan ke depan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru