unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Harga Emas Dunia Pulih Setelah Imbal Hasil Obligasi Turun
News

Harga Emas Dunia Pulih Setelah Imbal Hasil Obligasi Turun

Ilustrasi harga emas dunia yang pulih setelah tekanan dolar Amerika Serikat
Harga Emas Dunia Pulih Setelah Imbal Hasil Obligasi Turun
A A Ukuran Teks16px

Harga emas dunia kembali menguat setelah tekanan dari dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi mulai mereda.

Data Trading Economics pada Jumat (9/10/2026) menunjukkan harga emas spot naik 1,47 persen ke US$ 4.193,87 per ons troi.

Kenaikan itu setara 60,75 poin, dengan pertumbuhan tahunan 4,50 persen.

Sebelumnya harga emas sempat merosot 1,2 persen ke US$ 4.113,89 per ons troi, level terendah sejak 5 Agustus 2026.

Pendorong Pemulihan

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai penurunan harga emas dipicu kombinasi dolar AS yang kuat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi.

"Penyebab utama emas jatuh ke level terendah dua bulan terakhir adalah kombinasi dolar yang kuat dan imbal hasil obligasi AS yang tinggi," ujar Sutopo kepada Kontan pada Jumat (9/10/2026).

Tekanan berkurang ketika harga minyak dunia melandai dan imbal hasil Treasury turun dari level tertinggi dalam 24 tahun.

Penurunan itu terjadi setelah lelang obligasi bertenor 30 tahun menarik minat kuat investor.

Meredanya tekanan mendorong harga emas kembali mendekati US$ 4.200 per ons troi.

Namun pemulihan ini belum menghapus koreksi besar sejak harga emas mencapai rekor US$ 5.589,38 per ons troi pada 28 Januari 2026.

Sejak rekor tersebut, harga emas telah terkoreksi sekitar 26 persen.

Pembelian emas secara konsisten oleh bank sentral membantu menahan tekanan lebih dalam, termasuk penambahan cadangan oleh Bank Sentral China selama 23 bulan berturut-turut.

Prospek dan Strategi

Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan tetap berfluktuasi.

Faktor yang menjadi perhatian meliputi arah harga minyak, perkembangan keamanan di Selat Hormuz, serta kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Desember 2026.

Dari sisi teknikal, level US$ 4.000 per ons troi menjadi area dukungan penting, sedangkan US$ 4.500 menjadi batas resistensi psikologis.

Perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga perlu diperhitungkan investor.

Sutopo menilai strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing, terutama saat volatilitas pasar masih tinggi.

Ia menyarankan pendekatan pembelian bertahap dan pengelolaan porsi emas secara proporsional dalam portofolio.

"Karena pasar masih bergejolak, strategi yang lazim dipakai adalah membeli bertahap, bukan sekaligus, menjaga porsi emas tetap proporsional dalam portofolio, dan tidak mengejar kenaikan satu-dua hari," tegas Sutopo.

Untuk prospek hingga akhir 2026, Sutopo memperkirakan harga emas bergerak dalam rentang US$ 4.400 hingga US$ 4.900 per ons troi.

Potensi kenaikan tersebut masih dapat terhambat apabila peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed tetap tinggi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru