unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Dokter Ungkap Cara Pilih Masker untuk Kabut Asap, N95 Tak Selalu Cocok
News

Dokter Ungkap Cara Pilih Masker untuk Kabut Asap, N95 Tak Selalu Cocok

Ilustrasi masker N95 untuk melindungi pernapasan dari kabut asap dan polusi udara
Dokter Ungkap Cara Pilih Masker untuk Kabut Asap, N95 Tak Selalu Cocok
A A Ukuran Teks16px

Paparan kabut asap menuntut perlindungan pernapasan yang tepat, tetapi masker dengan daya saring tinggi tidak selalu cocok untuk semua orang.

Dokter spesialis paru Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K) memaparkan cara memilih masker dan langkah perlindungan saat kualitas udara memburuk.

Agus merupakan penulis utama buku Pencegahan dan Penanganan Dampak Kesehatan Akibat Asap Kebakaran Hutan yang diterbitkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Penjelasannya mencakup kemampuan filtrasi masker, risiko bagi kelompok rentan, serta keterbatasan alat pemurni udara.

Kriteria masker yang disarankan

Menurut Agus, masyarakat tidak harus terpaku pada satu jenis masker, asalkan produk yang dipilih merupakan respirator dengan kemampuan penyaringan partikel yang memadai.

"Yang terpenting adalah masker itu masuk kategori sebagai respirator, itu memiliki kemampuan untuk memfiltrasi partikel-partikel halus seperti PM 2,5 di atas 90 persen," kata Agus.

N95 merupakan salah satu pilihan yang dapat memenuhi kriteria tersebut.

Agus juga menyebut KN94, FFP2, dan jenis masker lainnya sebagai alternatif yang dapat dipertimbangkan berdasarkan kemampuan penyaringannya.

"Jadi, N95 itu salah satu contoh saja. Bisa saja ada yang lain seperti KN94 atau mungkin FFP2 ataupun tipe-tipe masker lainnya," ujarnya.

Sebelum membeli masker, masyarakat disarankan memeriksa informasi filtrasi terhadap partikel halus PM2,5 pada produk.

Agus menyebut kemampuan penyaringan di atas 90 persen sebagai kriteria yang memenuhi syarat untuk perlindungan dari partikel tersebut.

Kelompok rentan dan keterbatasan perlindungan

Masker dengan daya saring tinggi memiliki kerapatan yang dapat meningkatkan hambatan saat bernapas.

Karena itu, buku yang ditulis Agus bersama koleganya tidak menganjurkan penggunaan masker seperti N95 bagi ibu hamil, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis.

Agus menjelaskan bahwa hambatan pernapasan dapat memperburuk kondisi orang yang sudah mengalami gangguan paru.

"Kerapatan masker itu akan membuat kemampuan bernapasnya itu juga terganggu. Nah, orang yang sudah punya penyakit paru itu akan membuat dia akan menjadi lebih sesak," kata Agus.

Balita juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian karena kebutuhan oksigennya tinggi.

Penggunaan masker yang terlalu rapat dikhawatirkan mengganggu kenyamanan dan kemampuan mereka untuk bernapas.

"Balita, karena anak-anak balita juga membutuhkan oksigen yang tinggi. Kalau dikasih masker yang rapat itu tentu akan mengganggu," ujarnya.

Kelompok rentan tersebut dapat menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi lebih rendah sesuai penjelasan Agus.

Namun, pemilihan masker bukan satu-satunya langkah perlindungan yang perlu dilakukan ketika udara di luar rumah berada dalam kondisi tidak sehat.

Bagi orang yang berisiko tinggi, menghindari aktivitas di luar rumah menjadi langkah utama saat kualitas udara mencapai tingkat tidak sehat atau berbahaya.

"Kuncinya adalah orang-orang berisiko tinggi ini justru wajib tidak beraktivitas di luar rumah," kata Agus.

Jika harus bepergian menggunakan mobil, sistem pendingin udara perlu diatur ke mode resirkulasi.

Setelah keluar dari mobil, orang yang berisiko tinggi disarankan segera memasuki ruangan.

Masker biasa dapat digunakan untuk sementara selama perpindahan tersebut, tetapi kondisi udara di tempat tujuan juga perlu diperhatikan.

Menurut Agus, berada di dalam bangunan tidak otomatis memberikan perlindungan apabila kualitas udaranya sama buruk dengan udara luar.

"Karena sama saja kalau udara luar sama udara di dalam ruangan itu sama, ya nggak ada bedanya," ujarnya.

Untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar, seluruh ventilasi rumah atau ruangan perlu ditutup ketika kondisi udara di luar memburuk.

Masker N95 dan alat pemurni udara atau air purifier memiliki keterbatasan dalam menghadapi polusi.

Keduanya dapat digunakan untuk menyaring partikel sesuai kemampuan masing-masing, tetapi tidak dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap seluruh jenis pencemar udara.

Agus menjelaskan bahwa air purifier tidak mampu menyaring komponen gas berbahaya, termasuk karbon monoksida dan nitrogen oksida.

"Air purifier itu tidak bisa melindungi dari komponen gas. Dia hanya bisa memfiltrasi dari komponen partikel," kata Agus.

Keterbatasan serupa berlaku pada masker N95 yang berfungsi menyaring partikel, bukan gas.

"Tapi kalau masker N95, N95 itu enggak bisa. Dia hanya partikel yang bisa difiltrasi," ujarnya.

Perlindungan terhadap gas memerlukan perangkat yang lebih canggih, yakni respirator yang dilengkapi pasokan oksigen atau air supply respirator.

Menurut Agus, perangkat tersebut biasanya digunakan oleh petugas pemadam kebakaran hutan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru