unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Wisatawan China Makin Hemat saat Libur Hari Nasional 2026
News

Wisatawan China Makin Hemat saat Libur Hari Nasional 2026

Wisatawan China memilih kota kecil dan perjalanan hemat selama libur Hari Nasional
Wisatawan China Makin Hemat saat Libur Hari Nasional 2026
A A Ukuran Teks16px

Liburan Hari Nasional China pada Oktober 2026 mendorong perjalanan wisata domestik dan internasional, termasuk ke kota-kota kecil yang menawarkan pengalaman budaya lokal.

Namun, data perjalanan dan survei konsumen menunjukkan peningkatan mobilitas tidak selalu diikuti kenaikan belanja.

Wisatawan semakin memperhatikan harga dan nilai yang diperoleh selama berwisata.

Mobilitas Meningkat, Belanja Tetap Tertekan

Administrasi Imigrasi Nasional China mencatat 15,46 juta perjalanan penumpang lintas batas selama libur Hari Nasional yang berlangsung tujuh hari.

Sekitar 682.000 warga negara asing masuk ke China, meningkat 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebanyak 505.000 di antaranya memanfaatkan kebijakan bebas visa, naik 9,2 persen.

Rata-rata 2,209 juta perjalanan lintas batas terjadi setiap hari, bertambah 6,7 persen secara tahunan.

Shanghai, Guangzhou, dan Chengdu termasuk kota dengan aktivitas perjalanan internasional tinggi selama periode tersebut.

Meski aktivitas perjalanan meningkat, kondisi konsumsi domestik masih menghadapi tekanan.

Permintaan konsumen China masih lemah, tekanan deflasi berlanjut, dan pasar properti belum sepenuhnya pulih.

Pada Golden Week tahun sebelumnya, jumlah perjalanan memang meningkat, tetapi rata-rata pengeluaran per perjalanan turun menjadi 911,04 yuan atau sekitar Rp 2,1 juta.

Angka itu menjadi level terendah dalam tiga tahun.

Analis senior Forthright Securities, Ailsa Liao, menilai minat bepergian tetap kuat meskipun konsumen lebih berhati-hati mengatur anggaran.

"Konsumen masih memiliki minat yang kuat untuk bepergian, tetapi mereka tetap berhati-hati dalam menentukan berapa banyak uang yang akan dibelanjakan," ujar Ailsa Liao.

Liao menjelaskan bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan tidak otomatis meningkatkan pendapatan industri dalam proporsi yang sama.

Perbedaan antara frekuensi perjalanan dan besarnya pengeluaran menjadi tantangan bagi sektor pariwisata selama musim liburan.

"Lebih banyak wisatawan tidak selalu berarti keuntungan yang meningkat secara proporsional," ujar Liao.

Survei Dragon Trail International menunjukkan 54 persen responden berencana bepergian ke luar negeri selama liburan 2026, meningkat dari 35 persen pada tahun sebelumnya.

Meski demikian, hanya 5 persen responden berencana menginap di hotel mewah, sementara hotel kelas menengah menjadi pilihan terbanyak dengan 33 persen.

Data Trip.

com menunjukkan pemesanan hotel untuk masa inap minimal tujuh malam meningkat 123 persen dibandingkan Golden Week tahun sebelumnya.

Agen perjalanan Spring Tour juga melaporkan paket perjalanan ke Spanyol, Portugal, Balkan, Eropa Utara, Yunani, dan Selandia Baru telah terjual habis pada pertengahan Agustus.

Sejumlah rute ke Asia Tengah, Asia Barat, dan Australia terjual lebih cepat dari perkiraan.

Kota Kecil dan Pengalaman Budaya Jadi Pilihan

Di dalam negeri, wisatawan semakin melirik kota kecil dan kawasan pedesaan.

Wang Yinan, seorang perempuan berusia 20-an dari Beijing, melakukan perjalanan seorang diri ke Ruicheng, Kota Yuncheng, Provinsi Shanxi.

Ia mengunjungi kampung halaman Lyu Dongbin, tokoh dalam kisah Delapan Dewa yang kembali populer melalui film animasi "All Wishes Come True!"

Di Istana Yongle, Wang mengunjungi bangunan peninggalan Dinasti Yuan (1271-1368) dan melihat mural Taoisme terkenal "Chaoyuantu".

Ia juga menelusuri lokasi budaya yang berkaitan dengan adegan film tersebut.

"Saya sangat gembira akhirnya bisa tiba di kampung halaman Lyu Dongbin," kata Wang.

Bagi Wang, perjalanan itu juga menjadi kesempatan untuk mengenal budaya tradisional China secara langsung.

Pilihan tersebut mencerminkan minat wisatawan terhadap destinasi yang menawarkan pengalaman lokal, bukan hanya objek wisata utama di kota besar.

Yang Han, peneliti di Institut Riset Mahadata Qunar, menyebut destinasi kota kecil mulai berkembang pesat sekitar 2023-2024.

Menurutnya, perubahan tersebut didukung perluasan jaringan transportasi serta meningkatnya minat terhadap perjalanan yang lebih terjangkau dan mendalam.

"Munculnya tren pariwisata ke destinasi alternatif dan liburan musim panas ke tempat yang kurang ramai, serta perkembangan jaringan kereta cepat dan jaringan bandara kecil regional, telah memudahkan wisatawan untuk mencapai pusat-pusat wilayah," ujar Yang Han.

"Dibandingkan dengan kota-kota besar yang populer, pariwisata di kota-kota kecil lebih mengutamakan nilai sepadan dengan biaya yang dikeluarkan, suasana setempat, serta pengalaman mendalam untuk mengenal kehidupan dan budaya setempat."

Data pariwisata Ruicheng memperlihatkan pertumbuhan kunjungan yang kuat.

Objek wisata berperingkat A di wilayah tersebut menerima 1,3 juta kunjungan pada 2024, naik 39,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Jumlah itu meningkat menjadi 1,5 juta kunjungan pada 2025.

Pada Januari-Agustus 2026, jumlahnya mencapai 1,4 juta kunjungan, tumbuh 40,18 persen secara tahunan.

Di Tonglu, Provinsi Zhejiang, sebanyak 1,16 juta kunjungan wisatawan tercatat selama libur Hari Nasional 2026.

Rata-rata sekitar 165.100 kunjungan per hari, meningkat 4,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di Jianli, Provinsi Hubei, Jalan Malam Tianfu Qimiao menggelar acara prapembukaan pada 30 September 2026 dan menerima 163.000 pengunjung pada hari pertama.

Pertumbuhan sejumlah destinasi tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kota kecil dalam pasar wisata China.

Pemerintah China juga berupaya meningkatkan konsumsi melalui kampanye pariwisata dan penambahan layanan kereta selama liburan.

Namun, menurut Liao, perpanjangan masa libur belum menunjukkan tanda-tanda mampu mendorong lonjakan pengeluaran harian wisatawan.

Kebijakan bebas visa turut mempermudah kunjungan warga asing ke sejumlah wilayah China.

Administrasi Imigrasi Nasional China mencantumkan fasilitas bebas visa hingga 30 hari bagi pemegang paspor biasa dari sekitar 61 negara, termasuk Indonesia, untuk kunjungan jangka pendek ke Provinsi Hainan.

Pengecualian berlaku bagi tujuan bekerja atau belajar.

China juga menyediakan skema bebas visa untuk kelompok wisatawan asing yang masuk menggunakan kapal pesiar melalui pelabuhan tertentu.

Masa tinggal hingga 15 hari berlaku di Beijing dan wilayah pesisir yang tercakup dalam kebijakan.

Kelompok wisatawan ASEAN dapat memperoleh fasilitas tinggal hingga enam hari di Xishuangbanna, Provinsi Yunnan, dan Guilin, Guangxi Zhuang, sesuai ketentuan perjalanan berkelompok.

Fasilitas lain berlaku bagi kelompok wisatawan asing yang datang dari Hong Kong dan Makau menuju sejumlah kota di Provinsi Guangdong atau ke Hainan, dengan masa tinggal maksimal enam hari.

Masa tinggal berdasarkan kebijakan regional tersebut dihitung mulai pukul 00.00 pada hari setelah kedatangan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru