unique visitors counter
⌂ Beranda › Hiburan › Yeon Sang-ho Kembali Lewat 'Paradise Lost', Angkat AI dan Duka Seorang Ibu
Hiburan

Yeon Sang-ho Kembali Lewat 'Paradise Lost', Angkat AI dan Duka Seorang Ibu

Sutradara Yeon Sang-ho dan para aktor dalam acara premiere film Paradise Lost di Seoul
Yeon Sang-ho Kembali Lewat 'Paradise Lost', Angkat AI dan Duka Seorang Ibu
A A Ukuran Teks16px

Sutradara Yeon Sang-ho kembali dengan karya terbaru berjudul "Paradise Lost", sebuah thriller psikologis yang mengangkat tema kompleks tentang motherhood dan identitas manusia di era kecerdasan buatan (AI).

Film ini menjadi penanda kembalinya Yeon yang dikenal lewat cerita genre intens, kali ini dengan pendekatan yang lebih kontemplatif.

Premiere film digelar di Seoul pada Senin, dan Yeon langsung membagikan gagasan di balik karyanya.

"Di era AI, saya percaya menjadi manusia berarti hidup di dunia pemikiran yang mendalam," ujar Yeon usai premiere.

Ia menilai AI tidak bisa berpikir mendalam, sementara manusia mampu.

Yeon menggambarkan manusia memiliki dunia batin yang dalam dan tak diketahui, seperti lubang hitam di ruang angkasa, dan "Paradise Lost" berusaha menjelajahi hal itu.

Kisah Duka Seorang Ibu dan Kehadiran AI

Film ini mengikuti So-young (Kim Hyun-joo), seorang ibu berduka yang kehilangan putranya, Sun-woo, sembilan tahun sebelumnya.

Sun-woo hilang bersama 12 anak lain dalam insiden bus sekolah yang tak ditemukan.

Tujuh hari setelah insiden, sejumlah anak ditemukan tewas di basement gudang sebuah kota tambang, dan pencarian kemudian dihentikan, meninggalkan So-young dalam penderitaan tanpa akhir.

Untuk menghadapi kehilangan itu, So-young berinteraksi setiap hari dengan versi anaknya yang dihasilkan AI melalui program augmented reality bernama "Children of Paradise".

Namun semuanya berubah ketika Sun-woo (Bae Hyeon-seong) tiba-tiba kembali dalam wujud dewasa dan tampak seperti orang asing bagi ibunya.

Yeon mengungkapkan film ini terinspirasi dari cerita pendek tiga halaman yang ditulis ibunya.

Ia juga menyebut kesuksesan film low-budget sebelumnya, "The Ugly", memberinya kepercayaan diri untuk menggarap proyek ini.

"Saya bisa membuat 'Paradise Lost' berkat respons luar biasa terhadap 'The Ugly'," kata Yeon.

Ia merasa prosesnya seperti kegiatan klub ekstrakurikuler ketimbang proyek komersial, dan menikmatinya hingga ingin melakukannya setahun sekali bila memungkinkan.

Pengalaman pribadinya sebagai orang tua turut membantunya terhubung dengan dilema emosional sang protagonis.

"Saya punya anak perempuan di sekolah dasar dan anak laki-laki berusia 5 tahun," ujar Yeon.

Ia fokus pada dilema dan pilihan So-young dari perspektif orang tua sekaligus anak.

Film ini telah mendapat pengakuan internasional dan lokal, dengan undangan ke Toronto International Film Festival dan Busan International Film Festival ke-31.

"Kami mendapat respons luar biasa di Toronto, dan jurnalis asing mengajukan pertanyaan mendalam tentang film ini," kata Yeon.

Penonton domestik di BIFF juga terlibat mendalam dengan karya tersebut.

Ia mengaku hal itu mengingatkannya bahwa panggung utama mereka adalah Korea, dan ia antusias menunjukkan film ini kepada penonton lokal.

"Paradise Lost" akan tayang di bioskop lokal pada 21 Oktober.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru