unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Tanda Stres Mahasiswa Perlu Konseling Menurut Psikolog Unhas
News

Tanda Stres Mahasiswa Perlu Konseling Menurut Psikolog Unhas

Ilustrasi mahasiswa mengalami stres dan membutuhkan bantuan konseling
Tanda Stres Mahasiswa Perlu Konseling Menurut Psikolog Unhas
A A Ukuran Teks16px

Tekanan akademik, adaptasi perkuliahan, dan persoalan pribadi dapat memicu stres pada mahasiswa.

Psikolog Layanan Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Syarifa Nadhrah Mustamin MSi MPsi Psikolog, menegaskan stres adalah respons wajar terhadap tekanan.

Namun, kondisi ini perlu diwaspadai ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan kesejahteraan psikologis.

Menurut Nadhrah, stres tidak selalu menandakan gangguan kesehatan mental.

Hal terpenting adalah kemampuan individu mengenali dan mengelola tekanan yang dialami.

Mahasiswa disarankan mempertimbangkan bantuan tenaga ahli jika merasa kewalahan, sulit menyusun prioritas, atau tidak mampu mengatur beban.

Burnout dan Tantangan Mahasiswa Baru

Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah burnout, yakni kelelahan akibat tekanan berkepanjangan.

Nadhrah menjelaskan burnout muncul ketika tuntutan perkuliahan sulit dikendalikan.

Situasi ini kerap dialami mahasiswa baru yang menyesuaikan diri dengan pola belajar perguruan tinggi.

Mereka dituntut lebih mandiri dalam mengatur kegiatan akademik.

Perubahan budaya belajar dari masa sekolah menjadi salah satu sumber tekanan.

Nadhrah mengatakan, "Kalau terkait dengan akademik, tentu pertama itu burnout biasanya.

Banyak yang burnout, terlalu kaget sama, misalnya mahasiswa baru kaget sama budaya universitas yang terlalu banyak tugasnya, yang harus banyak mandiri," dalam Unhas TV, dikutip Selasa (13/10/2026).

Risiko burnout juga menghantui mahasiswa tingkat akhir, terutama saat menyusun skripsi.

Proses ini menuntut pengaturan jadwal bimbingan dan penyelesaian penelitian secara mandiri.

Selain tuntutan akademik, persoalan keluarga, pengalaman kehilangan, dan masalah pribadi dapat memperberat tekanan psikologis.

Faktor-faktor tersebut saling berhubungan sehingga pengalaman stres setiap mahasiswa berbeda.

Karena itu, evaluasi diri perlu dilakukan ketika tekanan terasa semakin berat.

Nadhrah menyarankan mahasiswa yang kewalahan mulai mengatur prioritas dan waktu.

Pengelolaan tanggung jawab secara bertahap dapat membantu menghadapi tekanan.

Ia menyampaikan, "Atur waktu, bikin skala prioritas, jangan semuanya mau diambil," sebagai langkah awal mengelola stres.

Dukungan sosial juga penting, seperti berbicara dengan teman sebaya atau dosen pembimbing akademik.

Jika tekanan sulit dikendalikan, mahasiswa disarankan mencari bantuan profesional.

Respons empatik saat bercerita dapat membantu meringankan beban emosional.

Layanan Psikologi di bawah Perpustakaan Pusat Unhas dapat dimanfaatkan dosen dan tenaga kependidikan yang memenuhi ketentuan universitas.

Layanan tersebut mencakup konseling dan psikotes.

Dalam konseling, mahasiswa mendapat ruang didengarkan tanpa penghakiman.

Konselor atau psikolog membantu memahami kondisi, mengelola pengalaman emosional, serta mempertimbangkan pilihan tindak lanjut.

Konseling tidak selalu menyelesaikan seluruh masalah, tetapi menjadi pendampingan agar individu memahami persoalan lebih jernih.

Nadhrah menilai masih ada stigma terhadap orang yang mencari bantuan psikolog atau psikiater.

Menurutnya, mencari bantuan profesional adalah tindakan wajar dan bukan tanda kelemahan.

Ia mengingatkan bahwa orang sehat tetap dapat mengalami stres.

Kemampuan mengenali kondisi diri, mengelola tekanan, dan mencari dukungan menjadi bagian menjaga kesejahteraan psikologis.

Nadhrah berpesan, "Beranilah mencari bantuan, karena mencari bantuan itu adalah hal yang sehat, hal yang wajar."

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru