Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (13/10/2026) di zona merah dengan penurunan 0,17% atau 10,17 poin ke level 5.925,98.
Pelemahan terjadi saat investor menghadapi tekanan geopolitik, ketidakpastian terkait MSCI, dan penantian data inflasi Amerika Serikat (AS).
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai indeks masih tertekan karena belum mampu menembus level psikologis 6.000.
Ia menyoroti posisi teknikal IHSG yang masih menunjukkan kecenderungan bearish.
Menurut Reza, IHSG bergerak di bawah indikator moving average 20 hari (MA20) di sekitar 6.188, sementara indikator MACD masih negatif.
Kondisi tersebut menjadi pertimbangan investor dalam menilai peluang pergerakan indeks berikutnya.
Reza menempatkan area 5.850 hingga 5.800 sebagai zona support terdekat yang perlu dipertahankan IHSG.
Jika indeks menembus ke bawah area tersebut, pelemahan berpotensi berlanjut menuju 5.750.
Sebaliknya, kisaran 6.000 hingga 6.020 menjadi resistance yang perlu dilewati untuk membuka peluang pemulihan.
Untuk perdagangan Rabu (14/10/2026), Reza menyoroti rilis Consumer Price Index (CPI) AS periode September.
Konsensus memperkirakan inflasi tahunan AS meningkat menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus.
Reza memperingatkan realisasi inflasi yang melampaui ekspektasi berpotensi memperkuat dolar AS.
Pergerakan itu dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan aliran dana asing, sementara perkembangan geopolitik serta isu MSCI masih menjadi risiko pasar.
Dalam rekomendasi sahamnya, Reza menyarankan investor mencermati PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan penilaian berbeda terhadap pergerakan jangka pendek IHSG.
Ia melihat adanya volume pembelian saat indeks mengalami koreksi terbatas pada penutupan perdagangan Selasa.
Menurut Herditya, pergerakan tersebut mencerminkan pemantulan teknikal setelah koreksi cukup dalam pada perdagangan sebelumnya dan sesi pertama Selasa (12/10/2026).
Namun, pelaku pasar masih perlu memperhatikan perkembangan sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan indeks.
Herditya juga mencatat rupiah menguat terhadap dolar AS dan berada di level Rp 17.894 per dolar AS.
Untuk perdagangan Rabu (14/10/2026), ia memperkirakan IHSG berpeluang menguat dengan support di 5.892 dan resistance di 5.957.
Selain data inflasi AS, investor akan mencermati rilis data inflasi China yang dijadwalkan menjadi perhatian pasar pada perdagangan berikutnya.
Herditya merekomendasikan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dengan rentang 1.290 hingga 1.360, PT Indika Energy Tbk (INDY) pada kisaran 2.780 hingga 2.990, serta PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dalam rentang 290 hingga 304.