unique visitors counter
⌂ Beranda › News › BKSDA Minta Warga Lapor jika Lihat Orang Utan di Jalan Lintas
News

BKSDA Minta Warga Lapor jika Lihat Orang Utan di Jalan Lintas

Orang utan mencari makan di tepi Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat
BKSDA Minta Warga Lapor jika Lihat Orang Utan di Jalan Lintas
A A Ukuran Teks16px

Seekor orang utan ditemukan mencari makanan di Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada Selasa (13/10).

Kemunculan satwa itu diduga karena ketersediaan pakan di hutan berkurang setelah habitatnya terdampak kebakaran.

Warga melihat orang utan tersebut mondar-mandir di tepi jalan dan tampak keluar dari habitatnya yang terdampak kebakaran.

Seorang warga sekitar bernama Sano menyampaikan bahwa ada warga yang berhenti dan meletakkan buah-buahan untuk orang utan tersebut.

"Tadi ada ibu-ibu sempat berhenti dan memberikan buah-buahan, ditaruh begitu saja. Orang utan lalu menghindar dan tidak lama kemudian orang utan tersebut balik dan membawa buah-buahan," ujar Sano.

Orang utan itu diduga masuk ke area dekat permukiman karena berkurangnya ketersediaan pakan di habitat asli.

Kemunculan satwa liar di tepi jalan juga berisiko bagi satwa maupun pengguna jalan.

BKSDA Minta Masyarakat Segera Melapor

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun, Balai KSDA Kalimantan Tengah, Handi Nasoka, meminta masyarakat melapor jika menemukan orang utan yang diduga terdampak kebakaran hutan dan lahan.

"Terkait keberadaan OU di Jalan Lintas Kotawaringin, kami mengharapkan masyarakat yang melihat OU yang terdampak karhutla agar segera melapor ke BKSDA untuk segera kami lakukan rescue," ujar Handi Nasoka.

Handi mengatakan petugas akan melakukan penyelamatan atau rescue apabila diperlukan sesuai kondisi di lapangan.

Masyarakat dapat menghubungi BKSDA melalui nomor 08115218500 untuk melaporkan temuan orang utan.

"Lebih baik menjaga jarak, tidak mengerumuni, serta tidak mencoba menangkap atau menyentuh orang utan.

Satwa tersebut dapat mengalami stres ketika berada dekat manusia, sehingga penanganannya perlu dilakukan oleh petugas yang berwenang," ujar Handi Nasoka.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru