Panglima U. S.
Forces Korea (USFK) Jenderal Xavier Brunson menyatakan kondisi telah berubah dan menekankan pentingnya syarat dalam alih kendali operasi masa perang atau OPCON dari Amerika Serikat ke Korea Selatan.
Pernyataan itu disampaikannya dalam Indo-Pacific Summit tahunan yang digelar Gold Institute for International Strategy di Washington.
Brunson menegaskan perubahan kondisi membuat standar baru harus tetap dipenuhi.
"Karena kondisi telah berubah, karena kami mengubah rencana kami, kami memiliki standar baru yang harus kami pegang," ujarnya.
Ia merujuk peluncuran rudal Korea Utara pada awal pekan ini sebagai bukti perubahan tersebut.
Menurutnya, sekilas membaca koran sudah cukup menunjukkan kondisi benar-benar berubah.
Pada Senin, Korea Utara menembakkan rudal balistik taktis ke arah Laut Timur sebagai bagian upaya meningkatkan komponen utama sistem persenjataannya.
Media negara Korea Utara menyebut uji coba itu sebagai keberhasilan besar.
Syarat OPCON dan Jarak Pandangan Seoul-Washington
Pernyataan Brunson muncul di tengah perbedaan pandangan antara Seoul dan Washington soal waktu alih OPCON.
Seoul ingin mengambil kembali OPCON masa perang dari Washington sebelum masa jabatan pemerintahan Lee Jae Myung berakhir pada 2030, atau bahkan paling cepat tahun depan.
Washington menyampaikan keberatan terhadap percepatan transisi yang didorong pertimbangan politik.
Brunson menyatakan dirinya pro-OPCON, tetapi tidak mendukung pelanggaran syarat OPCON.
"Kami tidak punya keuntungan mengubah kondisi menjadi waktu. Waktu itu sendiri adalah kondisi," katanya.
Ia menambahkan pembahasan ini menyangkut kemampuan kritis dan kemampuan menjalankan seluruh misi yang diandalkan saat ini.
Ditanya soal struktur masa depan Komando Pasukan Gabungan Korea Selatan-Amerika Serikat atau CFC setelah alih OPCON, Brunson menyebut bentuk akhirnya masih belum pasti.
Ia menekankan setiap perubahan harus memperkuat aliansi bilateral.
"Saya tidak tahu bentuknya akan seperti apa," ujarnya.
Korea Selatan dan Amerika Serikat dilaporkan tengah membahas penundaan jadwal Security Consultative Meeting atau SCM tingkat tinggi.
SCM yang biasanya digelar antara akhir Oktober dan awal November itu berpotensi mundur ke Desember.
Penundaan tersebut muncul di tengah spekulasi bahwa Seoul mungkin tidak dapat mencapai target menyelesaikan fase kedua dari rencana transisi tiga tahap berbasis kondisi.
Rencana itu bertujuan memverifikasi kemampuan pasukan Korea Selatan untuk memimpin pasukan gabungan.