Produsen konsol retro Anbernic tengah menjadi sorotan Entertainment Software Association (ESA). Asosiasi itu merekomendasikan Anbernic dimasukkan ke daftar "Notorious Markets" pemerintah Amerika Serikat.
Dalam pengajuan kepada United States Trade Representative (USTR), ESA menyebut Anbernic sebagai penjual "superfake". Rekomendasi ini membuka peluang hambatan regulasi bagi perangkat Anbernic di pasar AS.
Masalah Bukan Perangkat Emulasi, tetapi ROM Bajakan
ESA tidak mempersoalkan perangkat keras emulasi yang dijual Anbernic. Yang menjadi sasaran adalah praktik menjual perangkat bersama kartu microSD berisi ROM game tanpa izin.
Kartu yang sudah terisi itu memuat judul berhak cipta dari penerbit seperti Nintendo, Sony, dan Microsoft. Menurut ESA, bundel tersebut melanggar hak kekayaan intelektual para anggotanya.
Jika USTR mengikuti rekomendasi ESA, Anbernic bisa menghadapi kendala di pasar AS. Penjualan lewat platform seperti Amazon dan eBay berpotensi dihentikan.
Alternatifnya, Anbernic hanya diminta berhenti menjual perangkat dengan kartu memori yang sudah terisi game.
Waktu rekomendasi ini juga dinilai penting karena Anbernic sedang menyiapkan perangkat baru seperti RG DDS.
Pada tahap ini, pengajuan ESA masih berupa rekomendasi. USTR belum menetapkan daftar tahunannya, sehingga perangkat keras Anbernic masih tersedia untuk sekarang.
Situasi ini menunjukkan persoalan kepatuhan yang umum di ruang konsol retro. Menjual perangkat emulasi memang legal, tetapi mendistribusikan perangkat lunak berhak cipta tidak.
Untuk menghindari gesekan dagang di AS, Anbernic dan produsen sejenis mungkin perlu beralih menjual perangkat tanpa game bawaan.
Di sisi lain, Ayaneo baru saja meluncurkan konsol retro Konkr Pocket Block dengan layar 4:3 dan Android 12.