Danantara Trust mengalokasikan dana minimal US$ 100 juta atau setara Rp 1,7 triliun setiap tahun untuk program sosial di bidang kesehatan, pendidikan, dan sanitasi.
Komitmen tersebut disampaikan CEO Danantara Rosan Roeslani dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (15/10/2025).
Dana itu menjadi dasar dukungan lembaga filantropi resmi bentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara tersebut terhadap tiga sektor prioritas.
Alokasi untuk Vaksinasi HPV dan Beasiswa Dokter Spesialis
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, Danantara Trust telah menyetujui pendanaan Rp 200 miliar untuk vaksinasi HPV.
Selain itu, disetujui pula Rp 600 miliar untuk beasiswa pendidikan dokter spesialis.
Kedua program tersebut ditujukan untuk mendukung pencegahan kanker serviks serta mengatasi kekurangan tenaga medis di sejumlah daerah.
Budi mengatakan, alokasi Rp 200 miliar untuk vaksinasi HPV diharapkan mempercepat pencegahan kanker serviks di Indonesia.
Sebelumnya, keterbatasan anggaran membuat pelaksanaan program tersebut diperkirakan memerlukan waktu hingga 15 tahun.
Menurut Budi, tambahan pendanaan dari Danantara Trust membuka peluang untuk memperpendek jangka waktu pelaksanaan program vaksinasi tersebut.
"Programnya seharusnya berlangsung 15 tahun karena kekurangan dana. Dengan adanya bantuan Danantara Trust ini, kami ingin mempercepatnya.
Siapa tahu bisa menjadi 10 tahun hingga 5 tahun," ujar Budi.
Salah satu bentuk dukungan pendidikan tersebut adalah beasiswa bagi 1.343 calon dokter spesialis.
Menurut Rosan, penerima bantuan tidak hanya memperoleh pembiayaan pendidikan, tetapi juga biaya hidup selama menempuh pelatihan yang diperkirakan berlangsung selama 3 hingga 6 tahun.
Dukungan biaya hidup diberikan karena peserta pendidikan dokter spesialis tidak dapat bekerja atau membuka praktik selama menjalani pelatihan.
"Jadi kami pun memberikan tidak hanya dari segi beasiswanya saja, tapi juga biaya untuk hidup mereka selama mengikuti pendidikan sebagai dokter spesialis atau biaya hidup," jelas Rosan.
Untuk beasiswa dokter spesialis, pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan tenaga medis di wilayah yang masih kekurangan dokter.
Budi mencontohkan Nias dan Papua Pegunungan sebagai daerah yang membutuhkan dokter spesialis untuk menangani penyakit seperti stroke dan jantung.
Peserta program akan memperoleh pembiayaan penuh untuk pendidikan dan biaya hidup selama menjalani pelatihan di Jakarta maupun luar negeri.
Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diwajibkan kembali ke daerah asal untuk memberikan pelayanan kesehatan.
"Selama 3 hingga 4 tahun mereka dididik, mereka dibiayai penuh oleh Danantara, dan kami meminta mereka kembali ke daerah, misalnya Papua Pegunungan atau Nias, untuk menyelamatkan nyawa masyarakat di sana," ujar Budi.