Dua senator Amerika Serikat mengajukan legislasi bipartisan yang bertujuan menegaskan kembali komitmen deterensi nuklir diperluas Washington yang bersifat 'ironclad' kepada Korea Selatan dan sekutu perjanjian lainnya.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ancaman nuklir dari Korea Utara, China, dan Rusia.
RUU bernama Reaffirming Extended Nuclear Deterrence Act itu diperkenalkan oleh Senator Mark Kelly dari Partai Demokrat asal Arizona pada akhir bulan lalu.
Legislasi tersebut didukung oleh Senator Thom Tillis dari Partai Republik asal North Carolina sebagai cosponsor.
Isi dan Tujuan RUU
RUU ini menyerukan pemeliharaan deterensi nuklir AS yang kredibel, didukung kemampuan militer konvensional, latihan bersama, dan konsultasi strategis dengan sekutu.
Dalam rancangannya, Amerika Serikat diminta menegaskan kembali bahwa komitmen deterensi diperluas kepada sekutu perjanjian tetap 'ironclad'.
Legislasi itu juga menekankan pentingnya postur militer, latihan, konsultasi strategis, dan investasi pertahanan yang menunjukkan komitmen tersebut.
RUU secara khusus mengidentifikasi Korea Selatan, Jepang, Australia, dan anggota NATO sebagai sekutu yang keamanannya secara langsung memajukan kepentingan keamanan nasional AS.
Selain itu, legislasi ini menyoroti meningkatnya ancaman nuklir dari Korea Utara, China, dan Rusia.
RUU menekankan pentingnya konsultasi berkelanjutan, perencanaan, dan latihan militer dengan sekutu untuk memperkuat kesiapan kolektif.
Disebutkan pula bahwa deterensi nuklir diperluas AS telah membantu mencegah sekutu mengembangkan senjata nuklir independen.
Legislasi ini muncul setelah Kelly dan Tillis mendesak pemerintahan Trump membalikkan keputusannya mengurangi secara substansial latihan militer bersama dengan Korea Selatan.
Dalam pernyataan saat mengumumkan legislasi tersebut, Kelly menegaskan bahwa deterensi hanya berfungsi jika lawan percaya pada komitmen yang dimaksud.
Ia menyoroti bahwa China dan Rusia sedang memperluas arsenal nuklir mereka, sementara Korea Utara terus menekan.
Menurut Kelly, ini adalah momen yang salah untuk membiarkan sekutu bingung tentang posisi AS.