Militer Amerika Serikat mempertimbangkan penggunaan bom konvensional terbesarnya, GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), jika kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Rencana itu dibahas di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah, dengan kemungkinan operasi militer baru masih bergantung pada keputusan pemerintah AS.
Laporan CNN pada Kamis (15/10/2026) menyebut rencana penggunaan MOAB mengacu pada keterangan sejumlah pejabat AS yang mengetahui pembahasan tersebut.
CNBC menyatakan belum memverifikasi informasi itu secara independen.
Seorang pejabat AS menjelaskan bahwa Departemen Pertahanan menyiapkan berbagai skenario operasi sesuai arahan presiden dan pimpinan pertahanan.
Pernyataan tersebut disampaikan kepada CNBC pada Jumat (16/10/2026).
"Departemen Pertahanan merencanakan berbagai skenario operasional untuk melaksanakan arahan Presiden dan Menteri Pertahanan, serta memastikan keberhasilan misi dalam kondisi operasi apa pun," kata pejabat AS tersebut.
Spesifikasi dan Riwayat MOAB
Bom GBU-43/B MOAB memiliki berat sekitar 21.600 pon atau 9,8 ton.
Senjata ini dirancang untuk menghasilkan ledakan di udara yang berdampak pada sasaran di permukaan dalam wilayah luas.
MOAB termasuk senjata konvensional nonnuklir terbesar dalam persenjataan militer AS.
Senjata tersebut pernah digunakan di Afghanistan pada 2017, ketika Donald Trump menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden, tetapi belum pernah digunakan AS untuk menyerang sasaran di wilayah Iran.
Kekhawatiran terhadap perluasan konflik meningkat setelah sebuah kapal kontainer dilaporkan tenggelam di dekat Selat Hormuz pada Rabu (14/10/2026).
Serangkaian serangan mematikan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran di Arab Saudi juga menambah ketegangan regional.
Trump sebelumnya menyatakan pada 8 Oktober 2026 bahwa ia tidak akan memerintahkan dimulainya kembali serangan militer terhadap Iran sebelum pemilihan sela AS pada 3 November 2026.
Namun, situasi keamanan kawasan tetap bergejolak di tengah tekanan terhadap Gedung Putih untuk menunjukkan kemajuan dalam mencapai sasaran militernya.
Konflik tersebut juga berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat AS melalui kenaikan tajam harga energi dan peningkatan biaya hidup.
Sementara itu, menurut laporan The Wall Street Journal, Iran memperkuat pertahanan di sekitar sejumlah fasilitas energi dan lokasi nuklir sensitif untuk menghadapi kemungkinan serangan baru.
Di pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa pemerintahnya akan menggabungkan kemampuan militer, pertahanan, perundingan, dan pengaruh strategis regional untuk memperjuangkan tuntutan Teheran.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Rabu malam.
Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan bahwa Ghalibaf tidak ingin negaranya terjebak dalam perang tanpa akhir.
Namun, Iran berupaya mencegah AS dan pihak-pihak yang dianggap sebagai lawannya mencapai tujuan melalui serangan militer.
Tuntutan Iran kepada Washington sebelumnya mencakup pencabutan blokade laut dan sanksi terhadap Iran, serta penarikan pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Iran masih mengupayakan jalur diplomasi bersamaan dengan upaya mempertahankan kemampuan militernya.