Kebakaran besar menghancurkan sebagian besar Balai Kota Limoges di Prancis pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di tengah demonstrasi nasional terkait kenaikan biaya hidup yang berujung ricuh.
Bangunan bersejarah yang berdiri sejak 1883 itu mengalami kerusakan berat setelah api melalap atap dan menyebabkan menara jamnya runtuh.
Insiden ini mengancam kelestarian bangunan bergaya Neo-Renaissance yang telah menjadi bagian penting dari pusat kota Limoges selama lebih dari satu abad.
Kerusakan Parah dan Kesaksian Warga
Prefek Haute-Vienne, Maurice Barate, menyatakan runtuhnya atap menyebabkan kerusakan meluas hingga lantai di bawahnya.
Ia menyebut hanya sayap barat yang masih bertahan, sementara sebagian besar bagian luar gedung telah hancur.
Barate menggambarkan kebakaran tersebut sebagai bencana bagi warisan sejarah setempat.
Kepada stasiun televisi LCI, ia mengatakan sekelompok orang beringas dengan sengaja membakar bangunan berusia 143 tahun itu.
Wali Kota Limoges Guillaume Guerin mengungkapkan aparat menghadapi kesulitan mengendalikan ratusan orang yang berkumpul di sekitar balai kota.
Menurutnya, para pengunjuk rasa memecahkan jendela dan menggunakan alat pendobrak untuk membuka pintu utama sebelum kebakaran terjadi.
Guerin menilai serangan tersebut memiliki unsur perencanaan dan tidak dapat diterima.
Ia menyoroti adanya persiapan serta tindakan yang disengaja dalam insiden yang merusak gedung pemerintahan itu.
Guerin juga menjelaskan keterbatasan personel kepolisian menghambat upaya pengamanan bangunan.
Sebagian aparat nasional dikerahkan untuk menangani demonstrasi di jalan-jalan, sehingga perlindungan terhadap balai kota tidak memadai.
Di tengah kerusakan, warga Limoges menyampaikan kesedihan atas hilangnya bagian penting dari sejarah kota.
Francoise Faurie, warga yang menyaksikan kebakaran, mengaku teringat pada kebakaran Katedral Notre-Dame di Paris pada 2019 ketika melihat menara jam balai kota runtuh.
Kerusakan itu juga berdampak secara pribadi bagi Faurie, karena keluarganya dijadwalkan menggelar pembaptisan cucunya di balai kota tersebut sekitar sebulan setelah kebakaran.
Ia mempertanyakan kondisi masyarakat dan warisan yang akan diterima generasi berikutnya setelah bangunan bersejarah itu rusak berat.
Faurie mengakui demonstrasi merupakan hak warga negara, tetapi ia menolak penggunaan kekerasan untuk menyampaikan tuntutan.
Menurutnya, hak untuk berunjuk rasa tidak membenarkan perusakan bangunan bersejarah.
Balai Kota Limoges diresmikan pada 1883 dengan rancangan Neo-Renaissance yang terinspirasi oleh balai kota Paris.
Bangunan tersebut tercatat sebagai monumen bersejarah, dengan menara jam dan menara lonceng setinggi sekitar 43 meter yang menjadi ciri khas kawasan alun-alun di depannya.
Pada hari setelah kebakaran, warga kembali mendatangi kawasan balai kota ketika cuaca mulai cerah.
Para ahli mulai memeriksa tingkat kerusakan bangunan, sementara Edith Lorcen, seorang pensiunan perawat, mengungkapkan kesedihannya atas kehancuran tersebut.
Lorcen mengingatkan bahwa kehancuran bangunan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk memperbesar permusuhan di tengah masyarakat.