Tekanan di pasar keuangan Indonesia meningkat setelah muncul rencana MSCI mengklasifikasi ulang Indonesia menjadi Standalone Market.
Kekhawatiran terhadap potensi keluarnya modal asing itu berdampak pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan pelemahan rupiah secara bersamaan.
Pelaku pasar juga mencermati pelemahan bursa global, terutama di Amerika Serikat, yang menambah tekanan di pasar surat utang dan valuta asing.
Yield Acuan Naik, Spread terhadap UST Melebar
Kenaikan imbal hasil terjadi di berbagai tenor obligasi pemerintah Indonesia setelah tekanan jual meluas.
Obligasi acuan tenor 5 tahun dan 10 tahun mencatat kenaikan paling besar, masing-masing sekitar 19 basis poin (bps).
Pada akhir pekan lalu, yield tenor 5 tahun mencapai 7,23%, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 7,41%.
Selisih imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun terhadap US Treasury (UST) juga melebar hingga kisaran 232 bps.
Pelebaran spread itu menjadi bagian dari perkembangan pasar ketika sentimen investor terhadap aset domestik mengalami tekanan.
Rupiah melemah 0,41% ke level Rp 18.012 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (16/10/2026).
Pelemahan itu berlangsung ketika Indeks Dolar AS (DXY) justru turun 0,29% ke posisi 101,7.
Pergerakan berlawanan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar domestik terhadap kemungkinan arus keluar modal asing.
Sentimen negatif di dalam negeri beriringan dengan penurunan bursa saham global.
Nasdaq anjlok 2,15%, S&P 500 terkoreksi 1,09%, dan Dow Jones turun 0,34%.
Tekanan terutama berasal dari aksi jual saham teknologi serta kekhawatiran mengenai tingkat pengembalian modal dari investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).
Di pasar surat utang domestik, transaksi obligasi terpusat pada sejumlah seri tertentu.
FR0110 menjadi seri dengan nilai transaksi beli putus (outright) tertinggi, mencapai Rp 4,97 triliun.
Posisi berikutnya ditempati FR0111 dengan nilai transaksi Rp 3,69 triliun.
Kedua seri itu mencatat aktivitas perdagangan menonjol ketika volatilitas pasar meningkat dan investor menghadapi ketidakpastian arus modal.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan memperkirakan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun bergerak di kisaran 7,30%-7,45% untuk hari itu.
Proyeksi tersebut disampaikan dalam riset yang diterbitkan pada Senin (19/10/2026), dengan mempertimbangkan perkembangan pasar global dan domestik.
Riset itu juga mengidentifikasi sejumlah Surat Berharga Negara (SBN) yang dinilai menarik untuk aktivitas perdagangan harian.
Instrumen yang disebutkan mencakup lima seri obligasi pemerintah, yaitu PBS003, FR0090, FR0064, PBS030, dan FR0101.