Kedutaan China di Thailand mengeluarkan peringatan perjalanan baru bagi warganya yang hendak ke Thailand. Peringatan ini menyoroti keamanan transportasi dan maraknya penipuan kerja berbayar tinggi.
Langkah itu menyusul serangkaian kasus penculikan yang menimpa warga China di Thailand. Para korban dilaporkan diperdagangkan ke sindikat penipuan di Myanmar.
Peringatan yang dirilis Jumat itu juga menyasar kalangan influencer dan seniman. Mereka diminta waspada terhadap tawaran kerja dengan gaji tinggi yang beroperasi di Thailand.
Kedutaan di Bangkok mengimbau pelancong untuk merencanakan perjalanan dengan cermat. Mereka juga diminta memilih transportasi berlisensi dan operator yang legal.
Dalam pernyataannya, kedutaan menekankan agar warga tidak menerima tumpangan gratis dari kenalan maupun orang asing. Mereka juga harus menolak perubahan mendadak pada lokasi atau rute perjalanan.
Selain itu, individu diminta selalu memberi tahu keluarga tentang keberadaan mereka. Peringatan serupa sebenarnya sudah pernah dikeluarkan pada April lalu.
Namun, peringatan terbaru ini lebih menyoroti meningkatnya jumlah penghibur dan influencer online yang tergoda ke Thailand. Mereka kemudian diperdagangkan ke jaringan penipuan.
Kasus Penculikan dan Modus Penipuan
Menurut laporan media Thailand, seorang pria Thailand berusia 30 tahun ditangkap pada 10 Oktober di Provinsi Tak, dekat perbatasan Myanmar.
Ia diduga bagian dari sindikat perdagangan manusia yang memikat tiga warga China ke Thailand dengan tawaran kerja palsu.
Jaringan kriminal transnasional diketahui mengoperasikan kompleks penipuan bernilai miliaran dolar di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar.
Mereka memakai iklan kerja palsu bergaji tinggi untuk menjebak korban asing ke dalam kerja paksa, perdagangan manusia, dan operasi penipuan online.
Sejumlah penipuan yang menargetkan streamer dan seniman pertunjukan menggunakan undangan palsu untuk sesi pemotretan dan audisi.
Salah satu kasus paling menonjol terjadi tahun lalu, ketika aktor China bernama Wang Xing dipikat dengan dalih proyek film dan kemudian diperdagangkan.
Awal bulan ini, seorang fotografer China berusia 34 tahun hilang setelah pergi ke Bangkok untuk pekerjaan pemotretan.
Keluarganya menerima permintaan tebusan saat mencari korban di Thailand, lalu melaporkan penculikan itu ke otoritas China dan Thailand.
Dalam kasus lain, sebuah unggahan darurat di media sosial pada 1 Oktober memperingatkan publik tentang hilangnya seorang guru musik asal Shanghai.
Guru itu dilaporkan hilang di Thailand pada 25 September.
Pada Agustus, The Beijing News melaporkan seorang turis China diculik di Thailand setelah masuk ke kendaraan yang ia kira milik pemandu wisatanya.
Ia baru dibebaskan setelah berteriak minta tolong di pos pemeriksaan polisi.
Semua individu tersebut dilaporkan telah kembali ke China berkat bantuan kedutaan di Bangkok.
Sementara itu, Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Thailand, Thanapol Cheewarattanaporn, pada Juni mengatakan proyeksi kedatangan turis China tahun ini dipangkas menjadi sekitar 7 juta dari perkiraan awal 9 juta.
Ia menyebut kekhawatiran keamanan telah menjadi tantangan utama Thailand di pasar China karena langsung memengaruhi keputusan perjalanan.
"Kisah-kisah seperti itu menyebar cepat di media sosial dan platform video pendek China, semakin merusak citra Thailand sebagai destinasi aman," ujarnya.
Kisah Wang Xing tetap menjadi salah satu kasus paling menonjol dari warga China yang dipikat ke Thailand dan terjebak dalam jalur perdagangan manusia.
Sindikat penipuan telekomunikasi memikat aktor itu ke Thailand pada Januari dengan tawaran proyek film palsu, lalu memindahkannya secara paksa ke kompleks penipuan di Myanmar.
Menurut dokumenter yang disiarkan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, awal tahun ini, Wang dijual ke tiga operasi penipuan berbeda dalam waktu empat hari.
Ia baru dibebaskan setelah pejabat kedutaan China berhasil memediasi pembebasannya.
Meski sudah kembali ke China dengan selamat, ia masih dibebani pinjaman online besar yang terpaksa diambilnya saat ditahan di Thailand dan Myanmar.
Kasus tersebut memberikan pukulan berat bagi pariwisata China ke Thailand sepanjang 2025, dengan permintaan pengunjung baru mulai pulih tahun ini.
