Pengujian independen terhadap Asus Googlebook 14 dan HP Googlebook 14c mengungkap keterbatasan pada layar OLED yang diusungnya.
Meski panel diklaim mendukung cakupan warna DCI-P3 penuh dan rasio kontras tinggi, Googlebook OS saat ini hanya mengunci output pada ruang warna sRGB.
Akibatnya, reproduksi dan akurasi warna kedua laptop ini berada di bawah standar laptop OLED modern.
Ketiadaan Manajemen Profil Warna
Laptop Windows atau macOS umumnya menyediakan manajemen warna tingkat lanjut, sehingga pengguna bisa berpindah antara profil sRGB dan DCI-P3 sesuai kebutuhan.
Pada Googlebook OS, tidak ada menu atau pintasan pengaturan untuk mengaktifkan gamut warna yang lebih luas.
Kondisi ini dialami HP Googlebook 14c yang ditenagai Snapdragon X1 Elite maupun Asus Googlebook 14 dengan Intel Core Ultra 7 355.
Padahal, panel layar secara fisik mampu menyajikan gamut warna lebih luas, tetapi sistem operasi membatasinya.
Dampaknya, saturasi warna yang dihasilkan terbatas dan tidak mencerminkan potensi penuh teknologi OLED.
Keterbatasan ini patut menjadi perhatian calon pengguna yang mengincar laptop premium untuk pekerjaan kreativitas visual.
Black Level Tinggi dan Kontras Merosot
Keunggulan OLED terletak pada kemampuannya mematikan piksel secara individu untuk menghasilkan hitam sempurna.
Namun, pengukuran pada Asus Googlebook 14 menunjukkan black level mencapai 0,42 cd/m².
Angka ini lebih menyerupai karakteristik panel IPS ketimbang OLED, sehingga rasio kontras merosot ke kisaran 1200:1.
Nilai tersebut jauh dari ekspektasi panel OLED yang seharusnya menyajikan kontras infinit.
Anomali firmware atau manajemen daya membuat warna hitam tampak agak abu-abu saat digunakan di ruangan gelap.
Sementara itu, HP Googlebook 14c menggunakan panel OLED glossy namun belum mendukung pemutaran konten HDR.
Dukungan HDR yang belum optimal pada Googlebook OS menambah daftar keterbatasan yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli.
