unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Laba BRI Rp31,2 Triliun Tapi Saham Anjlok, Analis: Valuasi Sudah Murah
News

Laba BRI Rp31,2 Triliun Tapi Saham Anjlok, Analis: Valuasi Sudah Murah

Laba BRI Rp31,2 Triliun Tapi Saham Anjlok, Analis: Valuasi Sudah Murah
Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta
A A Ukuran Teks16px

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencetak laba bersih Rp31,18 triliun pada semester I-2026, tumbuh 17,5 persen secara tahunan. Namun di saat yang sama, harga saham berkode BBRI tertekan dalam koreksi pasar yang meluas. Sejumlah analis menilai valuasi saham bank pelat merah itu kini sudah tergolong murah.

Paradoks itu menjadi perhatian pasar. Di satu sisi fundamental membaik, di sisi lain harga saham ikut terseret pelemahan pasar. Pada perdagangan Senin (19/10/2026), saham BBRI bahkan sempat anjlok 6,82 persen hingga mentok pada batas auto rejection bawah di level Rp2.460.

Kinerja Semester I-2026

Kinerja BRI pada semester I-2026 menunjukkan perbaikan di berbagai sisi. Laba bersih meningkat 17,5 persen menjadi Rp31,18 triliun. Rasio kredit bermasalah (NPL) turun menjadi 3,15 persen, sementara rasio biaya terhadap pendapatan membaik dari 38,52 persen menjadi 35,49 persen. Pengembalian ekuitas (ROE) terdongkrak naik menjadi 22,59 persen.

"Pertumbuhan BRI disertai perbaikan kualitas aset dan efisiensi operasional," ujar Jason Gozali, Head of Research Pluang Maju Sekuritas. Ia menilai kombinasi laba yang tumbuh dua digit dan profitabilitas di atas 20 persen menjadi daya tarik tersendiri.

Valuasi Dinilai Menarik

Riset Maybank Sekuritas Indonesia yang dikutip Bloomberg Technoz menilai valuasi BBRI untuk 2026 diperkirakan sebesar 1,4 kali berdasarkan rasio price to book value (PBV). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 1,7 kali pada 2025 dan 2 kali pada 2024, serta rata-rata lima tahun sebesar 2,2 kali.

"Pertumbuhan kredit yang lebih kuat akan membantu dampak tekanan margin," demikian pernyataan riset Maybank Sekuritas Indonesia. Sekuritas itu mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp3.900, serta memproyeksikan dividend yield BBRI mencapai 9,4 persen pada 2026 dan berpotensi naik menjadi 10,1 persen pada 2027.

Pandangan JPMorgan

Dalam skenario pasar yang membaik, JPMorgan melalui analis Harsh Wardhan Modi memberikan peringkat overweight untuk saham BBRI. Sementara itu, analis BNI Sekuritas Yulinda Hartanto menetapkan target harga Rp4.500, menjadi target tertinggi di antara angka yang disebutkan dalam laporan tersebut.

Konsensus Bloomberg yang melibatkan 33 analis menunjukkan sekitar 70 persen merekomendasikan beli saham BBRI. Rata-rata target harga untuk 12 bulan ke depan tercatat Rp3.848,21 per saham. Dengan posisi penutupan sebelum laporan 19 Oktober di level Rp2.640, angka konsensus itu mencerminkan potensi kenaikan hampir 46 persen.

Meski demikian, pasar tetap diwarnai ketidakpastian. Tekanan jual investor asing dan sentimen negatif seputar evaluasi indeks global masih membayangi pergerakan saham perbankan dalam jangka pendek.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru