SURABAYA, SURABAYAINSIDE.com - Pertanyaan sederhana yang jawabannya kerap di luar dugaan: dari tujuh bandara yang beroperasi di Jawa Timur, berapa yang berstatus internasional? Jawabannya hanya dua. Sisanya adalah bandara domestik dan perintis yang justru menjadi penopang konektivitas antardaerah. Berikut rinciannya.
Yang Berstatus Internasional: Juanda dan Dhoho
Pertama, Bandara Internasional Juanda — pintu gerbang utama provinsi ini. Meski bernama Surabaya, lokasinya berada di Sedati, Sidoarjo. Juanda melayani rute domestik dan luar negeri dengan maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, Citilink, Batik Air, dan AirAsia. Kedua, Bandara Internasional Dhoho di Grogol, Kediri, dengan landasan 3.300 meter. Penerbangan regulernya kini Kediri–Jakarta bersama Super Air Jet tiga kali sepekan. Sejak pengumuman Kemenhub pada 29 September 2026, pengelolaannya beralih sepenuhnya ke PT Surya Dhoho Investama setelah kerja sama operasional dengan Angkasa Pura Indonesia berakhir, dan bandara tetap beroperasi selama masa transisi.
Yang Domestik: Penopang Malang, Jember, dan Banyuwangi
Bandara Abdulrachman Saleh di Kabupaten Malang — dulunya Lapangan Terbang Bugis — melayani Malang Raya dan Kota Batu dengan dua landasan pacu sekitar 1.500 dan 2.300 meter. Di timur, Bandara Notohadinegoro Jember yang diresmikan pada 2014 menghubungkan Jember dengan Juanda dan Jakarta. Lebih ke ujung timur lagi, Bandara Banyuwangi (dahulu Blimbingsari, beroperasi sejak 2010) melayani rute ke Jakarta dan Surabaya yang pernah diisi Citilink, Garuda Indonesia, dan Wings Air.
Yang Perintis: Penopang Kepulauan
Dua bandara terkecil justru paling vital bagi warga kepulauan. Bandara Harun Thohir di Pulau Bawean, Gresik, beroperasi sejak 2016 untuk pesawat kecil dengan rute terbatas ke Juanda dan Sumenep. Sementara Bandara Trunojoyo Sumenep — dibangun sejak 1979 dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada April 2022 — berlandasan sekitar 1.600 meter dan melayani rute ke Bawean serta Pagerungan; rute komersialnya ke Surabaya sudah tidak lagi aktif. Tujuh bandara, dua label internasional, dan sisanya membuktikan bahwa ukuran bukan penentu pentingnya sebuah bandara bagi daerahnya.