Toko-toko di pusat Kota Milan menutup lebih awal dan menutup jendela dengan papan pada Senin (20/10), setelah dua hari protes yang berujung bentrokan dengan polisi, penjarahan, dan perusakan properti.
Mayoritas toko di kawasan belanja mewah Via Montenapoleone, yang menjadi lokasi merek seperti Chanel, Tiffany, dan Dior, mengosongkan etalase sebagai langkah antisipasi.
Polisi berpatroli di sepanjang jalan, sementara beberapa wisatawan terlihat memandang situasi tersebut.
Ratusan pengunjuk rasa bertopeng, banyak di antaranya diduga anak di bawah umur, membakar tempat sampah dan menjarah toko di pusat kota selama akhir pekan.
Aksi itu menyusul demonstrasi damai pada Sabtu yang menuntut perbaikan layanan publik dan menolak kenaikan biaya hidup.
Rekaman televisi menunjukkan sejumlah gerai menjadi sasaran penjarahan, termasuk peritel olahraga Decathlon dan Arc'teryx serta operator seluler Vodafone.
Toko seperti Levi's, Under Armour, dan Decathlon menutup jendela dengan kardus dan panel kayu.
Pemerintah Siapkan Langkah Pencegahan
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam kekerasan tersebut dan memimpin rapat dengan para menteri serta pejabat keamanan pada Senin.
Pemerintah berencana memperkenalkan langkah-langkah yang diusulkan kepolisian untuk mencegah dan menanggulangi ledakan kekerasan serupa.
Seorang sumber pemerintah menyebut usulan itu akan dibawa ke rapat kabinet yang diperkirakan berlangsung Selasa.
Koran Corriere della Sera melaporkan bahwa Meloni mempertimbangkan memperpanjang penahanan preventif bagi anak di bawah umur dan menindak geng remaja.
Langkah itu akan mempercepat sejumlah ketentuan dalam rancangan undang-undang keamanan yang sedang dibahas parlemen.
Kepolisian Italia menyatakan telah menahan 271 orang muda selama kerusuhan di Milan pada Minggu.
Dari jumlah tersebut, 32 orang ditangkap, termasuk 23 anak di bawah umur dan 13 warga negara asing.
Sebanyak 28 orang lainnya dilaporkan kepada otoritas peradilan.
Kerusuhan juga terjadi di kota-kota utara lain seperti Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin pada Sabtu, dengan 28 pengunjuk rasa ditangkap.
Gelombang protes ini menggema kerusuhan di Prancis, tempat ratusan ribu orang turun ke jalan menolak kenaikan biaya hidup dan penurunan layanan publik.
